"SELAMAT DATANG DI AKHSANUR BLOG TEMPAT NONGKRONG ANAK RADIOLOGI."

ATRO WIDYA HUSADA

Selasa, 20 Juli 2010

RADIOGRAFI

Teknik Radiografi adalah ilmu yang mempelajari tata cara pemotretan dengan menggunakan sinar pengion seperti sinar x untuk membuat citra gambar radiografi guna menegakkan diagnosa.

Dalam membuat teknik radiografi agar mendapatkan hasil citra gambar / image yang dapat menegakkan diagnosa dapat diatur dengan memodifikasi posisi pasien dengan posisi pesawat roentgen karena keduanya dapat mempunyai keadaan yang berbeda seperti mendapat pasien kecelakaan dengan fraktur / retak maka bila pasien kurang kooperatif / tidak sadar yang di modifikasikan adalah pesawatnya yang otomatis kaset berisi film menyesuaikan.

mspq


Posisi Penderita Pasien

Pengaturan kedudukan penderita secara keseluruhan dalam suatu pemeriksaan. Posisi penderita dapat disebut dengan berbagai istilah, sebagai berikut :

Supine

Prone

Erect

Lateral

Oblique

tidur telentang

tidur telengkup

berdiri

miring/menyamping (membentuk sudut 90 derajat terhadap Flim)

miring (membentuk sudut lebih atau kurang dari 90 derajat Terhadap film)

Oblique terbagi 4 macam kedudukan, yaitu :
Right Anterior Oblique (RA0), artinya letak penderita miring dengan tepi kanan depan dekat terhadap film.
Right Posterior Oblique (RPO), artinya letak penderita miring dengan tepi kanan belakang dekat terhadap film.
Left Anterior Oblique ( LAO), artinya letak penderita miring dengan tepi kiri depan dekat terhadap film.
Left Posterior Oblique (LPO), artinya letak penderita miring dengan tepi kiri belakang dekat terhadap film


Posisi Obyek

Pengaturan kedudukan bagian tubuh / obyek yang akan di periksa (dibuat image).
Beberapa istilah pergerakan yang penting, antara lain :

Fleksio

Ekstensio

Endorotasi

Eksorotasi

Adduksi

Abduksi

Inspirasi

Ekspirasi

gerakan melipat sendi

gerakan membuka sendi

gerakan memutar kedalam

gerakan memutar keluar

gerakan merapat ketubuh

gerakan menjauhi tubuh

gerakan menarik napas

gerakan mengeluarkan napas

bodymovement
84968159


Pengaturan Sinar

Sinar X yang akan digunakan dalam pemotretan perlu diarahkan secara tepat pada obyek yang akan difoto. Disamping itu faktor eksposi perlu diatur agar sesuai dengan tebalnya obyek (nomor atom berbeda) yang akan difoto. Karena hal tersebut maka pengaturan sinar terbagi dalam :
Pengaturan Focus Film Distance (FFD)
Jarak antara sumber sinar ke film, hubungannya dengan faktor eksposi adalah bahwa semakin dekat jarak FFD maka faktor eksposi harus dikurangi.


Pengaturan Central Ray (CR)

Central Ray adalahj arah berkas sinar terhadap obyek yang diperiksa. Terbagi dalam beberapa istilah dilihat dari posisi pasien, yaitu :

Antero Posterior

Postero Anterior

Dorso Ventral

Ventro Dorsal

Dorso Plantar

Planto Dorsal

Supero Inferior

Infero Superior

Latero Medial

Medio Lateral

Translateral

Caudo Cranial

Cranio Caudal

Axial

Tangensial

sinar dari depan ke belakang

sinar dari belakang ke depan

sinar dari punggung ke perut

sinar dari perut ke punggung

sinar dari punggung kaki / tangan ke telapak

sinar dari telapak ke punggung kaki / tangan

sinar dari atas ke bawah

sinar dari bawah ke atas

sinar dari lateral ke tengah tubuh

sinar dari tengah tubuh ke lateral

sinar dari satu tepi ke tepi yang lain

sinar dari kaki ke kepala

sinar dari kepala ke kaki

sinar menuju poros sendi

sinar membentuk garis singgung terhadap obyek

bodypositioning


Central Point (CP)

adalah garis tengah / titik pusat dari berkas sinar x yang digunakan dalam pemeriksaan terhadap obyek yang diperiksa menuju ke tengah kaset / film.


Faktor Ekspose

Faktor ekspose adalah faktor yang mempengaruhi terjadinya pencitraan gambar pada film yang terdiri dari : tegangan satuan KV (Kilo Volt), Arus satuan MA (Milli Ampere) dan Secon (Second). KV adalah beda potensial yang diberikan antara katoda dan anoda didalam tabung roentgen yang akan menentukan daya tembus terhadap ketebalan obyek yang diperiksa. MA mempengaruhi kualitas kehitaman / densitas pada film karena mA kuantitas banyaknya elektron yang terkumpul pada anoda. Secon adalah waktu yang dibutuhkan elektron untuk menembus ketebalan obyek selama penyinaran.
Penentuan faktor eksposi tergantung pada permintaan foto
Foto tulang sebaiknya menaikkan KV
Foto organ tubuh sebaiknya menaikan mA
Foto organ yang memerlukan pergerakan yang sering ataupun foto dimana pasien tidak diam sebaiknya menaikan Secon seperti pada foto bayi

Ada nilai standar pesawat untuk melakukan suatu teknik radiografi dan nilainya tidak sama untuk setiap pesawat sehingga faktor eksposi harus dipahami benar oleh seorang radiografer. Besarnya faktor ekspose berbeda-beda untuk tiap jenis pemotretan beberapa faktor, yaitu :

Ketebalan Obyek
Semakin tebal obyek yang difoto, semakin tinggi faktor eksposi yang dibutuhkan dalam pemotretan tersebut.
Focus Film Distance (FFD)
Pada penggunaan FFD yang lebih besar, membutuhkan faktor eksposi yang lebih tinggi.


Jenis Pemeriksaan

Seperti Soft tissue, High KV, Low KV membutuhkan faktor eksposi yang berbeda dengan teknik biasa meskipun pada obyek yang sama.
Aksesories Radiologi
Penggunaan screen film, speed film, green film, grid dan lain-lain akan membutuhkan faktor eksposi yang berbeda.


KASUS DIBUTUHKANNYA PEMERIKSAAN RADIOLOGIS

Fracture (ruda paksa), yaitu patah atau retak tulang akibat trauma / benturan. Foto rontgen yang dibutuhkan harus dapat memperlihatkan lokasi, bentuk serta kedudukan dari fraktur tersebut.

Dislokasi (luksasi), yaitu terlepas / bergesernya kepala sendi dari mangkok sendi. Foto rontgen yang dibutuhkan harus dapat memperlihatkan kearah mana dislokasi tersebut terjadi dan pada kasus tertentu dibutuhkan foto perbandingan kanan dan kiri.

Corpus Alienum (Foreign Body), yaitu adanya benda asing yang masuk ke dalam tubuh didalam tubuh seperti tertelan, tertembak dll. Foto rontgen yang dibutuhkan harus dapat memperlihatkan letak dan kedudukan benda asing tersebut dari aspek PA dan laeral ataupun teknik radiografi lain yang menunjang. Dalam membuat foto FB bekas luka tembak harus di beri logam yang di plester agar dapat diketahui kedudukan FB dan seberapa jauh FB dari luka.

Kelainan Palologis, yaitu kelainan akibat penyakit yang dapat dilihat dari densitas, kerapatan, trabekula dll.


Beberapa distorsi yang terjadi pada gambaran radiografi

Gunakan standar FFD 90 cm untuk pemeriksaan konvensional dan 120 cm untuk analisa jantung, besarnya FFD akan mengakibatkan magnifikasi (pembesaran)
Central ray Yang tidak tegak lurus terhadap film akan mengakibatkan distorsi. Semakin besar sudut dari tegak lurus akan mengakibatkan elongasi (pemanjangan) dan sudut yang tidak tepat pada CP standar teknik pemeriksaan maka obyek akan mengalami shortening (pemendekan). Dengan adanya sifat ini maka ditemukan beberapa teknik pemeriksaan yang khusus seperti pada patella sky line view, axial klavikula dsb.
Pembatasan Luas lapangan penyinaran (kolimasi) sesuai obyek yang diperiksa karena semakin besar kolimasi maka radiasi hambur akan semakin besar sehingga akan membuat ketajaman gambar berkurang/kabur karena sifat sinar x yang arahnya divergen.
Pikirkan faktor keselamatan radiografer dan pasien dalam hal posisi pasien, kenyamanan pasien dan proteksi pasien, radiografer dan lingkungan sekitar.
Hindarilah pengulangan penyinaran akibat reject karena posisi, pergerakan dan faktor eksposi.

lambangradiasibaru

1 komentar: