"SELAMAT DATANG DI AKHSANUR BLOG TEMPAT NONGKRONG ANAK RADIOLOGI."

ATRO WIDYA HUSADA

Jumat, 23 Juli 2010

MRI (Magnetic resonance imaging)

Radiologi

merupakan cabang ilmu kesehatan yang berkaitan dengan zat-zat radioaktif,

energi pancaran, diagnosis, dan pengobatan penyakit dengan menggunakan

radiasi pengion (sinar X) maupun bukan pengion (ultrasound). Wilhelm Conrad Roentgen menemukan radiasi sinar X pada tanggal 8 November 1895

di Wuerzburg University. Awalnya segala sesuatu yang berkenaan dengan radiologi dianggap mengarah ke rontgen (pemeriksaan), tetapi kini radiologi

tak hanya sebatas itu. Radiologi juga menyentuh level pencitraan (imaging)

baik dengan zat radioaktif maupun dengan energi pancaran.



dibagi menjadi 2, radiologi diagnostik dan terapik. di thread ini cman

dibahas radiologi diagnostik yaitu MRI. CT Scan dan USG ga akan dibahas

karena uda umum.



Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah suatu alat kedokteran di

bidang pemeriksaan diagnostik radiologi , yang menghasilkan rekaman

gambar potongan penampang tubuh / organ manusia.



Gambaran tersebut didapat dengan menggunakan medan magnet

berkekuatan antara 0,064 – 1,5 tesla (1 tesla = 1000 Gauss) dengan

resonansi getaran terhadap inti atom hidrogen.


YANG INI CT SCAN GAN


ini dya si MRI




Beberapa faktor kelebihannya adalah kemampuan dalam membuat potongan

koronal, sagital, aksial dan oblik tanpa banyak memanipulasi posisi tubuh

pasien sehingga sangat sesuai untuk diagnostik jaringan lunak.



Teknik penggambaran MRI relatif komplek karena gambaran yang dihasilkan

tergantung pada banyak parameter. Bila pemilihan parameter tersebut

tepat, kualitas gambar MRI dapat memberikan gambaran detail tubuh

manusia dengan perbedaan yang kontras, sehingga anatomi dan patologi

jaringan tubuh dapat dievaluasi secara teliti.


contoh gambarnya gan






Untuk menghasilkan gambaran MRI dengan kualitas yang optimal sebagai

alat diagnostik, maka harus memperhitungkan hal-hal yang berkaitan

dengan teknik penggambaran MRI, antara lain :

a. Persiapan pasien serta teknik pemeriksaan pasien yang baik

b. Kontras yang sesuai dengan tujuan pemeriksaanya

c. Artefak pada gambar, dan cara mengatasinya

d. Tindakan penyelamatan terhadap keadaan darurat.


MRI bila ditinjau dari tipenya terdiri dari : a. MRI yang memiliki kerangka terbuka (open gantry) dengan ruang yang luas dan

b. MRI yang memiliki kerangka (gantry) biasa yang berlorong sempit.


Bila ditinjau dari kekuatan magnetnya terdiri dari ;
a. MRI Tesla tinggi ( High Field Tesla ) memiliki kekuatan di atas 1 – 1,5 T ;

b. MRI Tesla sedang (Medium Field Tesla) memiliki kekuatan 0,5 – T ;

c. MRI Tesla rendah (Low Field Tesla) memiliki kekuatan di bawah 0,5 T.

Prinsip Dasar MRI

Struktur atom hidrogen dalam tubuh manusia saat diluar medan magnet mempunyai arah yang acak dan tidak membentuk keseimbangan. Kemudian saat diletakkan dalam alat MRI (gantry), maka atom H akan sejajar dengan arah medan magnet . Demikian juga arah spinning dan precessing akan sejajar dengan arah medan magnet. Saat diberikan frekuensi radio , maka atom H akan mengabsorpsi energi dari frekuensi radio tersebut. Akibatnya dengan bertambahnya energi, atom H akan mengalami pembelokan, sedangkan besarnya pembelokan arah, dipengaruhi oleh besar dan lamanya energi radio frekuensi yang diberikan. Sewaktu radio frekuensi dihentikan, atom H akan sejajar kembali dengan arah medan magnet . Pada saat kembali inilah, atom H akan memancarkan energi yang dimilikinya. Kemudian energi yang berupa sinyal tersebut dideteksi dengan detektor yang khusus dan diperkuat. Selanjutnya komputer akan mengolah dan merekonstruksi citra berdasarkan sinyal yang diperoleh dari berbagai irisan.




Tata Laksana dan Langkah Pemeriksaan

1. Pada pemeriksaan MRI perlu diperhatikan bahwa alat-alat seperti tabung oksigen, alat resusistasi, kursi roda, dll yang bersifat fero-magnetik tidak boleh dibawa ke ruang MRI. Untuk keselamatan, pasien diharuskan mema-kai baju pemeriksaan dan menanggalkan benda-benda feromagnetik, seperti : jam tangan, kunci, perhiasan jepit rambut, gigi palsu dan lainnya.

2. Screening dan pemberian informasi kepada pasien dilakukan dengan cara mewawancarai pasien, untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang membahayakan pasien bila dilakukan pemeriksaan MRI, misalnya: pasien menggunakan alat pacu jantung, logam dalam tubuh pasien seperti IUD, sendi palsu, neurostimulator, dan klip anurisma serebral, dan lain-lain.

3. Transfer pasien menuju ruang MRI, khususnya pasien yang tidak dapat berjalan harus diperhatikan karena penggunaan mesin roda akan membahayakan dikarenakan medan magnet MRI selalu menyala. Cara antisipasi adalah menggunakan meja MRI yang mobile.

4. Kenyamanan pasien perlu diperhatikan karena dapat merancukan pemeriksaan.

5 Persiapan console yaitu memprogram identitas pasien se-perti nama, usia dan lain-lain.

6. Pemilihan coil yang tepat.

7. Memilih parameter yang tepat.

8. Untuk mendapatkan hasil gambar yang optimal, perlu penentuan center magnet (land marking patient) sehingga coil dan bagian tubuh yang diamati harus sedekat mungkin ke center magnet, misalnya pemeriksaan MRI kepala, pusat magnet pada hidung.

Beberapa kesalahan yang mungkin terjadi adalah:

1. Kesalahan disebabkan pergerakan fisiologis yang tidak periodic, seperti menelan, pernafasan yang tidak stabil, berkedip, dan lain lain.

2. Adanya pengaruh gaya magnet dari luar.

3. Penempatan central magnet yang tidak tepat


Pencegahan yang dapat dilakukan adalah: a. waktu pemotretan dibuat secepat mungkin, b. menanggalkan benda-benda yang bersifat ferromagnetik.


Kelebihan MRI Dibandingkan dengan CT Scan

Ada beberapa kelebihan MRI dibandingkan dengan pemeriksaan CT Scan, yaitu
1. MRI lebih unggul untuk mendeteksi beberapa kelainan pada jaringan lunak seperti otak, sumsum tulang serta muskuloskeletal.

2. Mampu memberi gambaran detail anatomi dengan lebih jelas.

3. Mampu melakukan pemeriksaan fungsional seperti pemeriksaan difusi, perfusi dan spektroskopi yang tidak dapat dilakukan dengan CT Scan.

4. Mampu membuat gambaran potongan melintang, tegak, dan miring tanpa merubah posisi pasien.

5. MRI tidak menggunakan radiasi pengion.

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika memilih terapi radiologi mana yang sesuai adalah sebagai berikut. Keberhasilan utama pemeriksaan radiologi adalah menyediakan informasi yang berguna untuk penatalaksanaan penyakit. Radiologi menjadi sangat penting untuk pengobatan, tetapi harga menjadi kendala utama. Oleh karena itu, pemilihan teknik yang tepat harus dipikirkan.

Setiap teknik radiologi memiliki keunggulan dan kelemahan. Meskipun telah tampak gejala jelas dari suatu penyakit, tetapi selama diagnosis belum ditegakan maka radiologi belum boleh diberikan. Misalkan terjadi sakit kepala akibat kelainan di otak. Jika penyebab sakit kepala tersebut adalah abnormalitas intrakranial maka CT Scan lebih baik dari MRI. Jika Sakit kepala tersebut ternyata terjadi akibat perdarahan subaraknoid maka MRI lebih baik dari pada CT Scan.

Pemilihan juga dipengaruhi oleh ketersediannya. Misal, jika MRI tidak

tersedia atau dalam kondisi yang tidak baik atau bahkan tidak tersedia ahli

untuk menginterpretasikan hasil MRI, maka CT Scan dapat dilakukan sebagai

penggantinya. Selanjutnya, perlu disadari bahwa teknik termurah belum

tentu merupakan teknik terbaik. Misalnya, pada kebanyakan kasus fraktur

tulang tengkorak, CT Scan merupakan pilihan terbaik dibandingkan foto

rontgen karena meskipun harganya lebih mahal tetapi dengan hasil CT Scan

kita dapat membuat keputusan tindakan apa yang akan kita berikan agar

tidak terjadi defek pada otak. Terkadang, lebih dari satu teknik radiologi

diperlukan dalam mendiagnosis suatu penyakit.

Pada akhirnya, pemilihan teknik radiologi yang dilakukan kembali berada di

tangan pasien. Pasien dengan ferromagnetic cerebral aneurysm tidak dapat

mengikuti MR imaging. Pasien dengan riwayat alergi terhadap kontras

media iodin tidak dapat mengikuti kontras CT Scan kecuali telah

menjalankan terlebih dahulu pengobatan dengan antiinflamasi seperti

steroid. MRI juga tidak cukup efisien untuk pasien yang claustrofobik.(phobia terhadap tempat sempit dan ruang gerak terbatas)


Kesimpulan

1. Pemanfatan MRI untuk memeriksa bagian dalam tubuh sangat efektif karena memiliki kemampuan membuat citra potongan koronal, sagital, aksial tanpa banyak memanipulasi tubuh pasien dan diagnosa dapat ditegakkan dengan lebih detail dan akurat.


2. Pesawat MRI menggunakan efek medan magnet dalam membuat citra potongan tubuh, sehingga tidak menimbulkan efek radiasi pengion seperti penggunaan pesawat sinar X.


3. Gambaran yang dihasilkan oleh pesawat MRI tergantung pada ketepatan pemilihan parameternya. Dalam pengoperasiannya dapat terjadi kecelakaan yang bisa membahayakan pa-sien, petugas serta lingkungannya. Mengingat biaya pemeriksaan MRI bagi seorang pasien cukup mahal dan efek sampingnya, ( terutama efek latennya) yang belum diketahui maka perlu pertimbangan yang matang sebelum pasien dikirim untuk pemerikaan MRI.


4. Penelitian perlu dilakukan untuk menge-tahui ada / tidaknya efek samping bagi pasien, petugas maupun lingkungannya (terutama efek latennya ), mengingat kekuatan medan magnet-nya cukup tinggi. Perlu tindakan pecegahan kecelakaan dalam pemer

2 komentar:

  1. aksan,,,,,
    rajin update di blok ternyata?
    aku punya pertanyaan:
    kuat medan magnet utama sangat berpengaruhi terhadap kekuatan signal MRI. medan magnet utama juga sangat berpengaruh pada fase presesi. nah pertanyaannya, kan konon katanya semakin besar medan magnet utama, waktu scanning semakin singkat? benarkah? kenapa bisa begitu?
    trims......

    BalasHapus
  2. ralat san, 1 Tesla = 10.000 Gauss

    BalasHapus