Minggu, 25 Juli 2010

AUDIOMETRI


AUDIOMETRI

I. TUJUAN
1.Mahasiswa mengenal peralatan audiometri.
2.Mahasiswa mampu melakukan kegiatan pemeriksaan audiometri untuk menentukan ambang dengar.
3.Mahasiswa mampu menganalisa data hasil pemeriksaan


II. TINJAUAN PUSTAKA
Dalam dunia industri sekarang ini, banyak digunakan berbagai macam mesin-mesin dan peralatan yang menimbulkan suara yang keras sehingga dampak bising di Industri ini semakin dirasakan oleh para pekerja. Dampak ini dirasakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Efek pemaparan bising yang secara langsung dirasakan para pekerja adalah gangguan komunikasi, gangguan konsentrasi, cepat marah, detak nadi meningkat, dan kenaikan nilai ambang pendengaran yang sifatnya sementara. Efek yang tidak langsung dan biasanya tidak dirasakan oleh para pekerja adalah penurunan tajam pendengaran secara perlahan-lahan, berlangsung dalam waktu yang cukup lama yang kemudian bersifat irreversibel sehingga menimbulkan tuli tetap.
Ketulian akibat kerja akibat terpapar kebisingan yang terjadi selama waktu kerja dapat bersifat parsial atau total mengenai satu atau kedua telinga dan ketulian bersifat sensorineural. Istilah ketulian akibat bising digunakan sebagai suatu kelainan yang terjadi karena sifat kumulatif dari paparan bising, kerusakan bersifat permanen dan timbul setelah beberapa tahun terpapar kebisingan diatas NAB. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ketulian akibat bising yang permanen antara lain : faktor intensitas paparan bising, lamanya seseorang terpapar kebisingan dan kepekaan seseorang terhadap kebisingan.
Seseoarang yang mengalami ketulian akibat bising biasanya kesulitan dalam menangkap percakapan terutama dalam suasana gaduh/bising (“Cocktail party deafnes”). Oleh karena itu penurunan ambang dengar akibat bising terjadi pada frekwensi tinggi, penderita mendapat kesulitan untuk menangkap bunyi konsonan dan lebih mudah menangkap bunyi vokal. Ketulian akibat bising (Noise induced hearing loss /NIHL) seringkali disertai tinitus (biasanya bunyi berdenging bernada tinggi tetapi kadang-kadang bernada rendah seperti tiupan angin atau desis).

III. ALAT DAN BAHAN
1.Audiometer
2.Lembar data pemeriksaan
3.Ruangan dengan background noise tidak lebih 40 dB
4.Sound Level Meter untuk mengukur Background noise.

IV. CARA KERJA
a. Prinsip Pemeriksaan
Ambang dengar (hearing threshold) adalah intensitas terendah yang masih dapat didengar, dinyatakan dalam dB.
Pemberian rangsangan bunyi pada telinga melalui hantaran udara pada frekwensi tertentu dengan intensitas paling rendah yang masih dapat didengar, hasilnya adalah grafik audiogram.
Kepekaan terhadap nada murni diukur pada frekwensi 500, 1000, 2000, 3000, 4000, 6000 dan 8000 Hz.
Kisaran normal ambang dengar antara 0 – 25 dB.

b. Persiapan pemeriksaan.
Sebelum pemeriksaan probondus harus terbebas dari paparan bising minimal selama 16 jam untuk menghindari adanya temporary threshold shift (TTS).

c. Tahapan pemeriksaan audiometri.
1.Berikan instruksi yang jelas dan tepat. Probandus perlu mengetahui apa yang harus didengar dan respon apa yang harus diberikan jika mendengar nada. Oleh karena itu lakukan pengenalan nada pada probondus, kemudian probondus diinstruksikan untuk menekan tombol bila mendengar nada
2.Pasang headphone dengan posisi warna merah untuk telinga kanan dan warna biru untuk telinga kiri
3.Pemeriksaan dimulai pada telinga kanan dimulai pd frekuensi 1000 Hz dengan intensitas 40 – 50 dB, bila orang yang diperiksa mendengar maka ia akan menekan tombol sinyal dan petunjuk lampu akan menyala.
4.Turunkan secara bertahap intensitas suara sebesar 10 dB sampai tidak mendengar, naikkan lagi intensitas suara dengan setiap kenaikan sebesar 5 dB sampai orang yang diperiksan mendengar lagi. Berikan rangsangan sampai 3 kali bila respon hanya 1 kali dari 3 kali test maka naikan lagi 5 dB dan berikan rangsangan 3 kali. Bila telah didapat respon yang tetap maka perpaduan antara penurunan dan penambahan merupakan Batas Ambang Dengar.
5.Catat hasil dalam lembar data pemeriksaan dan pada audiochart.
6.Untuk pemeriksaan frekuensi berikutnya, mulailah pada tingkat 15 dB lebih rendah dari ambang dengar pada frekuensi 1000 Hz ( misalnya bila pada frekuensi 1000 Hz dimulai intensitas 50 dB, maka pada frekuensi 2000 Hz dimulai dengan intensitas 30-35 dB )
7.Lakukan pemeriksaan untuk frekuensi diatas 1000 Hz dengan cara yang sama, dan terakhir pemeriksaan pada frekuensi 500 Hz.


V.ANALISA HASIL
1)Sumbu membujur menunjukkan frekwensi. Dari kiri ke kanan frekwensi rendah (500 Hz) sampai frekwensi tinggi (8000 Hz).
2)Sumbu melintang adalah intensitas suara dan intensitas terendah yang masih dapat didengar disebut ambang dengar. Nilai normal ambang pendengaran antara 0 – 25 dB
3)Frekwensi percakapan adalah frekwensi 500, 1000, 2000 dan 3000 Hz.
4)Untuk menentukan ambang dengar rata-rata, jumlahkan ambang dengar frekwensi percakapan dan dibagi 4.
5)Diharapkan semua test audiogram (monitoring) di tempat kerja berada dalam batas normal artinya tidak ada ambang dengar lebih dari 25 dB. Bila ambang dengar lebih dari 25 dB terutama pada frekwensi 500 Hz dan 1000 Hz, kemungkinan background noise terlalu tinggi.
6)Gambaran patognomonik (khas) audiogram ketulian akibat kebisingan dilihat pada frekwensi 4000 Hz, berbentuk takik (V).
7)Untuk monitoring, interpretasi hasil pemeriksaan pendengaran dinyatakan dengan :
a.Dalam batas normal
b.Penurunan ambang dengar telinga kiri / kanan atau
c.Penurunan ambang dengar pada telinga kiri dan kanan.

8)Kriteria Audiogram
a.Untuk membuat base line (pre employment).
Ambang dengar rata-rata frekwensi percakapan tidak melebihi 25 dB.
b.Untuk tujuan monitoring,
Bandingkan perubahan ambang dengar rata-rata audiogram awal bekerja dengan audiogram yang baru.
Pergeseran ambang dengar bermakna signifikan bila terjadi perubahan ambang dengar rata-rata lebih dari 10 dB pada frekwensi 3000; 4000; 6000 dan 8000 Hz. Standard Threshold Shift (STS) adalah 10 dB
Pergeseran ambang dengar bermakna signifikan bila terjadi perubahan ambang dengar lebih dari 15 dB pada salah satu frekwensi 3000; 4000; 6000 atau 8000 Hz.


9) Tuli karena kebisingan
a.Terjadinya NIHL setelah terpapar lebih dari 7 tahun.
b.Tidak ada keluhan sakit telinga.
c.Umumnya terjadi pada kedua telinga.
d.Jenis kerusakan sensorineural (saraf).
e.Patognomonis pada frekwensi 4000 Hz berbentuk takik (V).
f.Standard Threshold Shift (STS) lebih dari 10 dB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar