Selasa, 27 Juli 2010

KEMOTHERAPI

KEMOTHERAPI


A. Pengertian
Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan sitotoksik dalam terapi kanker untuk menyembuhkan, mengontrol penyakit atau sebagai terapi paliatif. Kemoterapi bersifat sistemik dan berbeda dengan terapi local seperti pembedahan dan terapi radiasi. Ada empat cara penggunaan kemoterapi :
Terapi adjuvant, suatu sesi kemoterapi yang digunakan sebagai tambahan dengan modalitas terapi lainnya dan ditujukan untuk mengobati mikrometastasis.
Kemotherapi neoadjuvan, terapi untuk mengecilkan tumor sebelum dilakukan pembedahan pengangkatan tumor
Terapi primer, terapi pada Ca local, alternative yang ada tidak terlalu efektif.
Kemoterapi induksi, obat yang diberikan sebagai terapi primer untuk pasien Ca yang tidak memiliki alternative terapi
Kemoterapi kombinasi, pemberian dua atau lebih zat kemoterapi dalam mengobati Ca yang bersifat sinergis.

B. Dasar Pengobatan
Menghentikan siklus pembelahan sel pada tahap yang spesifik utk semua sel Ca yang membelah cepat (pada hampir semua Kanker) dan menghentikan tidak pada siklus yang spesifik utk sel Ca yang membelah lambat

C. Klasifikasi Obat
Berdasarkan aktivitas farmakologis dan pengaruhnya terhadap reproduksi , diklasifiksaikan sebagai berikut :
1. Obat-obat spesifik fase siklus sel yang berpengaruh terhadap sel-sel yang sedang mengalami pembelahan, misalnya antimetabolit, alkaloid tanaman vinca dan zat lainnya seperti aspariganse dan dacarbazine.
2. Obat-obat fase siklus sel nonspesifik berpengaruh pada sel yang sedang membelah atau istirahat , misalnya agen alkilasi, antibiotic antitumor, nitrourea, hormone dan steroid serta agen lainnya seperti prokarbazine

Agens alkilasi bekerja dengan membentuk ikatan molekelul dengan asam nukleat yang mempengaruhi duplikasi asam nukleat sehingga mencegah mitosis. Antibiotik (agen anti tumor) mengganggu traskripsi DNA dan menghambat sintesis DNA dan RNA. Antimetabolit menghambat enzim esensial yang diperlukan dalam sitesa DNA sehingga menyebabkan transmisi kode yang salah. (agen) hormone-hormon bekerja dengan memanipulasi kadar hormone yang akan mempengaruhi permiabelitas sel sehingga pertumbuhan tumor dapat ditekan. Agen anti hormonal akan menentralkan atau menghambat produksi hormone alami yang digunkan untuk pertumbuhan tumor. Nitrourea menghambat sisteis DNA dan RNA. Kortikosteroid memberikan efek antiinflamasi . Alkaloid tanaman vinca, zat ini memberikan efek sitoktosik dengan mengikat protein mikrotubular selama metaphase yang menyebabkan berhentinya mitosis dan mati. Serta agen lainnya dengan berbagai cara kerja yang dapat menghambat sistesis protein.

Pemberian Kemotherapi
1. Perhitungan Dosis Obat
Dosis obat yang diberikan didasarkan pada luas permukaan tubuh (body surface area/BSA) baik pada anak-anak maupun dewasa. Dosis yang diberikan bervariasi tergantung dari obat yang digunakan. Perhitungan dosis harus dipastikan oleh orang kedua. Dosis beberpa obat dihitung secara proporsional menurut luas permukaan tubuh . BSA dihitung dalam meter persegi (m2). Sebuah normogram digunakan untuk menghitung korelasi antara BB dan TB pasien untuk memnentukan LPT. Dosis obat diberikan dalam milligram per meter persegi (Otto, 1996)
Contoh : TB = 170 cm, BB = 75 kg, m2 = 1,80 BSA, Dosis = 75 mg/m2.
1,80 x 75 = dosis x, maka x = 135 mg dosis.

2. Petunjuk Pemberian
a. Oral, perlu penekanana mengenai kepatuhan terhadap jadwal yang telah ditetapkan. Obat-obat yang memerlukan hidrasi (sitoksa) diberikan pada pagi hari.
b. Subkutan dan intramuscular, pastikan untuk mengubah tempat penyuntikan untuk setiap dosis obat y-ang diberikan.
c. Topikal, lapisi daerah permukaan dengan lapisan tipis obat.
d. Intraarteri, memerlukan pemasangan kateter yang terletak dekat tumor.
e. Intracavitas, obat dimasukan kedalam kandung kemih melalui kateter dan atau melului selang thoraks ke dalam rongga pleura.
f. Intraperitoneal, obat diberikan ke dalam rongga abdomen melalui alat dan atau dengan kateter suprapubis ekternal . hangatkan cairan infus sebelum diberikan dengan pemanasan kering.
g. Intravena, dapat diberikan melalui kateter vena central atau vena perifer. Metode pemberian meliputi :
1) Bolus, pemberian obat secara langsung ke dalam vena melalui jarum.
2) Piggyback (metoda sekunder), obat diberikan menggunakan botol sekunder dan slang : infuse primer diberikan bersamaan pemberian obat
3) Sisi lengan, obat diberikan melalui spuit atau jarum pada sisi alat infuse yang sedang terpasang.
4) Infus, obat ditambahkan ke dalam botol cairan intravena yang diberikan.

3. Pemilihan Vena dan Pungsi Vena
Pemilihan lokasi dan peralatan yang digunakan ditentukan oleh usia pasien, keadaan vena, obat yang digunakan dan lamanya waktu pemberian infuse. Gunakan vena bagian distal terlebih dahulu dan pilih vena diatas daerah fleksi. Pilih kateter yang terpendek dan ukuran terkecil yang sesuai dengan jenis dan lamanya pemberian infus. Vena yang digunakan biasanya yaitu vena basilica, sefalika dan metkarpal.

4.Prosedur pemberian kemoterapi Intravena
Prosedur kemoterapi untuk pengobatan kanker dibawah ini juga digunakan dalam bioterapi kanker, sumber :htpp://www.krcc.on.ca. chemotherapy/iv/administration. Diakses tanggal 10 Mei 2007. adapun prosedur agent kemoterapi adalah sebagai berikut:

A. Peralatan:
Peralatan perlindungan personal yang sesuai :
Sarung tangan dobel
Pakaian kemotherapi
Kapas alkohol
Alas plastic absorbent disposibel
Container (bengkok)untuk menampung limbah yang berbahaya (needle atau pecahan, dll)
Pelindung wajah (melindungi dari percikan)
Kontainer menampung limbah yang berbahaya
Kemoterapi kit
Peralatan untuk mencuci mata emergenci
Peralatan emergenci yang mudah diakses misalnya oksigen, infuse set dengan NaCl 0,9%
Anaphylaksis kit dekat tempat tidur
Ektravasation kit dekat tempat tidur (jika diberikan agen vesicants)
Agents (obat) dalam kantong tertutup dan tahan bocor
Obat-obatan suportif
Cairan IV yang sesuai


B. Prosedur Pemberian
1. Memastikan identifikasi pasien, obat, dosis, rute dan waktu pemberian sesuai dengan program therapy.
2. Mengkaji adanya riwayat alergi obat bersama pasien
3. Mengantisipasi dan merencanakan kemungkinan terjadinya efek samping atau tosiksitas sistemik
4. Memeriksa/membahas hasil pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan dignostik lainnya.
5. Memastikan persetujuan tindakan kemoterapi
6. Periksa peralatan yang dibutuhkan: jarum infus, set infus, tiang infus dll
7. Memilih peralatan yang sesuai
8. Menghitung dosis dan menyediakan obat dengan teknik aseptic ; mengikuti petunjuk yang ada. Cek ulang perhitungan dosis oleh perawat yang telah teregistrasi. (lihat persiapan obat)
9. Menjelaskan prosedur kepada pasien dan keluarganya
10. Persiapkan & lakukan pemasangan infus perifer atau vena sentral
11. Memberikan antiementik, antibiotik atau obat lain yang disarankan
12. Mempersiapkan lokasi pemasangan infuse atau jalur vena sentral
13. Memberikan agen kemoterapi
Gunakan peralatan pelindung
Berikan obat dengan aman tanpa terburu-buru
Letakan bantalan absorben beralas plastic dibawah slang selama pemberian obat untuk menyerap setiap tumpahan atau kebocoran.
Jangan membuang alat-alat atau obat yang tidak digunakan dekat dengan area perawatan pasien.
14. Memantau pasien sebelum, selama dan setelah pemberian kemoterapi. Monitor tanda-tanda vital setiap 20 – 30 menit pada dua jam pertama, khusussnya pada pemberian antineoplastik dengan potensial anafilaksis tinggi.
15. Membuang seluruh peralatan yang telah digunakan atau tidak terpakai dalam suatu tempat yang aman dari kebocoran dan jauh dari jangakauan pasien
16. Mencatat setiap prosedur menurut ketentuan yang berlaku.

Mempersiapkan Obat Kemotherapi
1. Semua obat kemoterapi dari kemasannya yang dimasukan kedalam sebuah lemari khusus yang aman secara biologis (Biology Safety Cabinet /BSC)
2. Gunakan peralatan proteksi pribadi : sarung tangan karet yang tidak tembus, baju dan celana khusus berkaret dan tertutup di depan, masker, kaca mata pelindung mata atau pelindung wajah jika tidak menggunakan lemari khusus yang aman secara biologis.
3. Gunakan seragam lengkap
4. Lakukan pengoplosan kemoterapi diruang “Laminary Air Flow” yang menggunakan kabinet “Biosafety”
Fan dalam “Biosafety” harus selalu dalam keadaan hidup.
Aliran angin pada sistem “Biosafety” harus dari luar ke dalam box, dan dari box “Biosafety” angin dibuang keluar
Alas meja “Biosafety” harus yang dapat menyerap air.
Pengoplosan harus dibalik kaca “Biosafety”

Saran untuk mengurangi pajanan, meliputi :
Cuci tangan sebelum dan sesudah menyiapkan obat
Batasi akses kedaerah penyiapan obat
Letakan penampung berlabeluntuk tumpahan obat dekat dengan area penyiapan
Gunakan sarung tangan sebelum memegang obat
Persiapkan obat dengan mnerapkan teknik aseptic
Hindari makan, minom, merokok, menggunakan kosmetik, menyimpan makanan pada atau dekat dengan area penyimpanan obat.
Letakan bantalan absorben pada daerah kerja
Buka botol atau ampul jauh dari badan
Buka botol obat menggunkan jarum filter hidrofobikatau pin untuk menghindari semburan obat.
Gosok daerah sekeliling leher botol dengan alcohol sebelum membukanya
Susun obat-obtan dalam lemari dengan standar biolodis kelas II, dengan menggunakan vial asli atau dengan kantong plastic yang memiliki perekat.
Tutup ujung jarum dengan kasa steril pada saat mengeluarkan oudara dari spuit.
Beri label setiap obat kemoterapi
Bersihkan setiap tumpahan dengan segera
Bawa obat kedaerah pengiriman dalam tempat yang anti bocor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar