Minggu, 25 Juli 2010

PENYAKIT PARKINSON

DeslripsI




Penyakit Parkinson merupakan suatu gangguan neurologis progresif yan mengenai pusat otak yang bertanggung jawab untuk mengontrol dan mengat gerakan. Karakterjstik yang muncut berupa bradikinesia (perlambatan gerakan tremor, dan kekakuan otot (Smejtzer dan Bare, 2002).
Park ilisonisme merupak istilah dan suatu sindrom yang ditandai dengan tremor ritmjk bradjkinesja kekakuan otot, dan hulangnya reeksreeks postural Kelajnan pergerka diakibatkan oleh defek jalur dopaminergik (produsj dopamin) yang menghubung substansia nigra dengan korpus striatum (nukleus kaudatus dan nukleus lentikularis) Basal ganglia adalah bagian dan sistem ekstrapjramjdal dan berpengaruh untjik mengawali modu)as mengakhirj pergerak serta mengatur gerakanger otomatjs (Sylvia dan Price, 1999). Kalimat itu kita tulis pada “penyebab” saja.
Penyebab
Sebagian besar penyebab kasus mi dianggap tidak diketahui atau idiopatik Parkinsonisme idiopatik adalali penyakit Parkinson atau paralisis agitans. Merupakan suatu penyakjt progresif lambat yang menyerang usia pertengafian atau lanjut, dengan awitan (onset) khas pada usia lima pulufian dan dam puluhan Tidak ditemukan sebab genetjk yang jelas dan tidak ada pengoba yang dapat menyembuhkannya
Patofisioj0g1

Lesi utama tampak menyebab hilangnya neuron pigmen, terutama neuron di dalam substansfa nigra pada otak (substansia nigra merupakan kumpulan nukleus otak tengah yang memproycksikan serabutserabut korpus striatum)
Salah satu neurotransmiter mayor di daerah otak mi dan bagianbagj lain pada sistem saraf pusar adala dopamin Yang mempunyaj fungsi Penting dalam mengha gerakan pada pusat kontrol geraka Secara normal dopamin memjljki konsentrasj yang tinggi di bagianj0 otak tertentu namun pada penyakit Parkinson konsentrasi dopamin menipjs dalam substansia nigra dan korpus stniatum. Penipisan kadar dopamin dalam basal ganglia yang berhubungan dengan adanya bradikinesia kekakuan dan tremor.
Aliran darah serebri regional menurun pada klien dengan penyakit Parkinson dan ada kejadian demensia yang tinggi. Data patologis dan biokimia menunjukkan bahwa klien demensia dengan penyakit Parkinson mengalami penyakit penyerta Alzheimer. Pada kebanykan klien, penyebab penyakit tersebut tidak diketahui. Parkinsonisme arterioskierosis terlihat lebih sering terjadi pada kelompok usia lanjut. Kondisi mi menyertai ensefalitis, keracunan, atau toksisitas (mangan, karbon monoksida), hipoksia, atau dapat alçibat pengaruh obat.

Gambar 6.1. Perubahan gaya berjalan pada klien parkinsonisme. Klien kehilangan refleks postural, berdiri dengari kepala cenderung ke depan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti didorong (sumber: Priguna Sidharta, Jakarta: Dian Rakyat, 1985).
Manifestasi utama penyakit Parkinson adalah gangguan gerakan, kaku otot, tremor menyeluruh, kelemahan otot, dan hilangnya refleks postural. Gejala awal yang dialami klien adalah kaku ekstremitas dan kaku pada semua gerakan. Klien mengalami kesulitan dalam memulai, iempertahankan, dan membentuk aktivitas motorik dan lambat dalam menghasilkan aktivitas normal. Gejala yang terlihat sebagai pertanda bahwa penyakit telah berlanjut adalah tremor, sering kali pada salah satu tangan dan lengan, kemudian ke bagian yang lain, dan akhirnya bagian kepala, walaupun tremor mi tetap unilateral.
Karakteristik tremor dapat berupa lambat, gerakin membalik (pronasisupinasi) pada lengan bawah dan telapak tangan, dan gerakan ibu jan terhadap
jan-jan seolah-olah memutar sebuah pil di antara jan-jan.
Keadaan mi meningkat bila klien sedang berkonsentrasi atau merasa cernas,
dan muncul pada saat klien istirahat.
Karakteristik lain adalah penyakit mi memengaruhi wajah, sikap tubuh, dan gaya berjalan. Klien mengalami kehilangan ayunan tangan normal, sehingga menyebabkan keterbatasan otot, wajah mengalami sedikit ekspresi. Hal mi dapat terlihat saat klien berbicara, wajah klien seperti topeng (sering mengedipkan mata), raut wajah yang ada muncul sekilas. Klien mengalami kehilangan refleks postural, berdini dengan kepala cenderung ke depan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti didorong, Kesulitan dalam berputar dan hilangnya keseimbangan (salah satunya ke depan atau ke belakang) dapat menyebabkan klien sering jatuh. Tanda depresi yang muncul pada klien belum dapat ditetapkan apakah depresi sebagai reaksi terhadap gangguan atau yang

berhubungan dengan abnormalitas biokimia di dalam substansia nigra pada
otak.
Rigiditas pada penyakit Parkinson jelas sekali memperlihatkan tahanan yang bergelombang sehingga dinamakan cogwheel rigidity. Pada rigiditas deserebrasi terdapat tahanan pada gerakan fleksi dan ekstensi pasif anggota gerak yang mempunyai segi spastik juga. Rigiditas deserebrasi merupakan manifestasi hilangnya pengaruh inhibisi dan meningkatnya pengaruh eksitasi terhadap gamma loop akibat kerusakan di bagian rostral batang otak. Secara singkat dapat dinyatakan bahwa sebenarnya pengaruh inhibisi pada susunan ekstrapiramidal adalah faktor utama terjadinya genesis rigiditas deserebrasi.
Rigiditas deserebrasi memperlihatkan juga pengaruh penurunan impuls vestibularis terhadap sikap tubuh yang serba kaku itu. Sikap tubuh yang kaku tersebut adalah seluruh tubuh kaku, dengan kedua lengan dirotasikan pada sendi bahu dan lurus pada sendi siku. Kedua tangan bersikap pronasi dengan jan-Jan lurus tapi ditekuk di sendi-sendi metakarpofalangeal. Kedua tungkainya bersikap lurus di sendi panggul dan lutut, sedangkan kaki dan jani-jarinya berfleksi kaku. Jika kepala diputar ke kanan, lengan kin akan melakukan gerakan fleksi di sendi siku secara reflekstorik. Bila kepala ditengadahkan secara pasif, sikap deserebrasi ssperti yang digambarkan di atas menjadi berlebihan.
Manifestasi otonom penyakit Parkinson antara lain adalah berkeningat, kulit berminyak dan sering mendenita dermatitis seboroik, sulit menelan, konstipasi, dan gangguan kandung kemih yang diperberat oleh obat-obat antikolinergik dan hipertrofi prostat.
Gangguan saraf okulomotorius tenlihat saat klien melakukan konvergensi, penglihatan menjadi kabur karena klien tidak mampu mempertahankan kontraksi otot-otot bola mata. Gerakan kedua bola mata untuk menatapkan mata pada sesuatu tidak selalu berjalan searah, melainkan bisa juga berjalan I ke arah yang benlawanan. Gerakan bola mata yang sinkron dengan arah yang berlawanan hanyalah gerakan kedua bola mata ke arah nasal. Dalam gerakan itu, bola mata kin bergerak ke kanan dan bola mata kanan bergerak ke kin. I Gerakan kedua bola mata ke arah nasal dinamakan gerakan konvergen, yang terjadi karena kedua otot rektus medialis (internus) herkontraksi.
Krisis oligurik menyertai parkinsonisme jenis pasca-ensefalitis, yaitu terjadi spasme pada otot-Otot konjugasi mata, mata terflksasi biasanya ke atas selama beberapa menit sampai beberapa jam. Saat mi, krisis oligurik jarang ditemukan karena jumlah klien yang masih bertahan hidup dengan tipe parkinsonisme mi semakin sedikit,
Rasa lelah berlebihan dan otot terasa nyeri. Otot-otot kelelahan karena terjadi rigiditas pada otot. Hipotensi postural yang terjadi berkaitan dengan efek samping pemberian obat dan juga gangguan pada pengaturan tekanan darah oleh sistem saraf otonom. Gangguan fungsi pernapasan yang terjadi berkaitan dengan hipoventilasi, inaktivitas, aspirasi makanan atau saliva, dan berkurangnya fungsi pembersihan saluran napas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar