Kamis, 11 Agustus 2011

PROSPEK KARIR RADIOGRAFER

Setelah baca2 artikel di posradiografer.com, ada artikel yang menaraik untuk di telusuri bagi calon radiografer ataupun radiografer senior yang di tulis oleh Sdr Wahyu Hidayat, pengen tau artikelnya bagaimana
silakan dibaca dibawah ini.

eyambung tulisan saya terdahulu tentang PELUANG USAHA RADIOGRAFER, rasanya koq tidak fair ya.. kalau saya juga tidak menulis tentang prospek karir atau pekerjaan Radiografer itu sendiri.

Sebenarnya, bagi mahasiswa maupun alumni Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (atau disingkat Jur.TRO) baik instansi Depkes ataupun Jur. TRO Swasta, pasti mengetahui akan jadi apakah mereka setelah lulus. Pastinya akan menjadi Radiografer, atau mempunyai usaha seperti yang saya pernah jelaskan.

Mungkin bagi calon mahasiswa atau masyarakat umum lainnya, belum tentu tahu. Lha Wong Radiografer aja mereka belum tentu tahu maksudnya. . He..he.he… Tetapi kalau “ Tukang Rontgen” mungkin banyak orang yang sudah tahu.



Dan memang Seorang radiographer tidak bisa dilepaskan dari istilah “Tukang Rontgen”, karena pekerjaan pokok radiografer adalah membuat radiograf (foto rontgen), sesuai permintaan dokter untuk menghasilkan diagnosa yang tepat terhadap penyakit/klinis yang diderita pasien.

Seorang radiografer harus lebih dari sekedar tukang rontgen. Seorang radiografer harus bisa menganalisa hasil radiograf yang dihasilkan dari segi kualitas gambaran/ bukan diagnosa klinis. Radiografer juga harus bisa menganalisa kualitas gambaran sebelum gambar itu terbentuk, jadi seorang radiografer harus memperhitungkan faktor-faktor apa saja yang akan membuat hasil gambaran radiografi akan sesuai dengan permintaan dokter dan klinis pasien, sehingga tidak ada istilah ”Coba-Coba”. Karena disini kita memakai radiasi pengion yaitu X-Ray, yang sedikit banyaknya akan menimbulkan efek terhadap pasien maupun radiografer itu sendiri. Jadi seorang radiografer diwajibkan meminimalisasi kesalahan terhadap proses pemeriksaan.

Jika ketentuan-ketentuan tersebut dipenuhi, maka akan terbentuklah seorang radiografer yang handal, kompeten, dan profesional. Mengapa ketentuan tersebut harus dipenuhi ??? Karena ketentuan tersebut akan berdampak pada NILAI JUAL radiografer itu sendiri.

Mahasiswa lulusan D3 jur. TRO dianggap sudah mampu untuk melakukan pemeriksaan radiografi konvensional dan kontras. Untuk bisa bekerja dan diakui status radiografer. Mereka diwajibkan untuk membuat Surat Ijin Radiografer (SIR) melalui Pengurus Daerah PARI (Persatuan Ahli Radiografi Indonesia). Dan juga Surat Ijin Kerja Radiografer (SIKR). Setelah kelengkapan administrasi tersebut sudah siap, barulah mereka dapat bekerja sebagai radiografer yang profesional dan kompeten. Agar bisa melakukan pekerjaan radiografi yang lebih advance (seperti; CT Scan, MRI, Kedokteran Nuklir, Radioterapi, USG), mereka harus mengikuti pelatihan lanjut dan atau melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk sementara di Indonesia jenjang pendidikan tertinggi radiodiagnostik adalah Program D4 Teknik Radiologi, sekarang baru ada di Pol;iteknik Kesehatan Depkes Jakarta II dan Politeknik Kesehatan Depkes Semarang.

Makin banyak kemampuan seorang radiografer, maka radiografer tersebut dianggap semakin kompeten dan berhak melakukan pemeriksaan radiografi yang lebih advance, dengan sendirinya juga akan menaikkan NILAI JUAL radiografer itu.

Radiografer bisa bekerja di semua instansi kesehatan yang memiliki sarana penunjang pemeriksaan Radiologi, seperti Rumah Sakit Pemerintah Maupun Swasta, klinik kesehatan, Klinik Cek up tenaga kerja, dll.

Bagaimana dengan Gaji/penghasilan yang didapat oleh radiografer?? Nah.. disinilai Nilai Jual radiografer berperan, semakin tinggi Nilai Jual radiografer, maka mereka bisa meminta gaji/penghasilan yang tinggi terhadap Rumah Sakit, Jika memang sesuai biasanya RS akan menyanggupinya. Dan juga sebaliknya, bagi radiografer yang baru (Nilai Jualnya rendah) juga harus tahu diri dengan meminta gaji yang sesuai dengan keahlian mereka.

Untuk Standar Rumah Sakit (RS) biasanya radiografer baru akan mendapat gaji sekitar 1,5 juta hingga 2,5 Juta per Bulannya (tergantung kondisi keuangan RS). Dan Radiografer Senior biasanya akan mendapat gaji/penghasilan sekitar 2,5 juta s/d 5 juta per bulan.

Itu juga masih ditambah dengan penghasilan lain seperti jasa medis, fee dari supplier alkes, limbah fixer, dll.

Bagi Radiografer senior yang mendapat tugas tambahan sebagai koordinator radiografer, juga diberi honor/insentif tambahan yang besarnya sesuai dengan kebijakan masing-masing RS.

Lain lagi jika radiografer bekerja di sebuah klinik. Biasanya gaji/penghasilan yang didapat akan lebih kecil dari Rumah Sakit. Biasanya radiografer yang bekerja di klinik adalah radiografer baru. Tetapi tidak menutup kemungkinan radiografer senior juga bekerja di klinik.

Ada juga klinik yang menerapkan sistem penggajian seperti RS, hal ini berlaku bagi klinik yang mempunyai pelayanan radiografi lengkap seperti konvensional, CT Scan, dll.

Sekarang tinggal calon radiografer yang memilih, kemana mereka akan bekerja. Dan hal tersebut pasti disesuaikan dengan kompetensi serta kesempatan yang dimiliki seseorang.

Kamis, 30 Juni 2011

Kegunaan Pemeriksaan UltraSonoGrafi (USG) Pada Kehamilan

Alhamdulillah buat temen sejawat radiografer setelah lama g memposting artikel tentang radiologi pada kesempatan ini saya akan meposting lagi ilmu tentang radiologi yang saya dapat dari www.melinda care.us yang berhubungan usg Dengan kehamilan untuk selengkapnya Baca Artikel Dibawah Terima kasih.....
Kegunaan Pemeriksaan UltraSonoGrafi (USG) Pada Kehamilan



Kapan sajakah waktu USG biasa dilakukan?

Pada umumnya USG pertama dilakukan pada kehamilan minggu ke 7 untuk memastikan
keadaan kehamilan. Dalam pemeriksaan USG tentunya akan menilai detak jantung janin,
mengukur panjang janin untuk menilai usia kehamilan.

Pemeriksaan USG kedua biasanya dilakukan pada kehamilan 18-22 minggu untuk menilai
kelainan congenital, kelainan bentuk, posisi plasenta, detak jantung janin, juga untuk menilai perkembangan janin. Pada pemeriksaan di minggu ini Anda mungkin sudah dapat mengetahui jenis kelamin bayi Anda.

Pada pemeriksaan USG ketiga biasanya dilakukan pada kehamilan minggu ke 34 untuk
mengevaluasi ukuran fetus dan menilai pertumbuhan fetus, pergerakan dan pernafasan, detak jantung bayi serta jumlah air ketuban di sekeliling bayi serta posisi bayi dan plasenta.

Pada dasarnya USG dapat dilakukan kapan saja selama masa kehamilan, karena USG tidak
berbahaya bagi ibu dan bayi. Pemeriksaan USG yang terutama dilakukan bila terjadi masalah kehamilan, misalnya adanya detak jantung janin yang tidak teratur

Apa saja yang dapat diperiksa dengan USG?
mengetahui usia kehamilan
1. Menilai pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan.
2. Ancaman keguguran.
3. Masalah plasenta.
4. Kehamilan kembar.
5. Mengukur jumlah cairan ketuban yang berlebihan atau terlalu sedikit.
6. Kelainan pada janin, seperti letak janin dalam rahim, kelainan jantung, down
syndrom
7. Mengetahui jenis kelamin bayi.


ULTRASONOGRAFI OBSTETRI ( KEBIDANAN )
Meskipun di Indonesia pemeriksaan ultrasonografi (USG) telah dikenal dan dilakukan
sejak tahun 1970-an, namun hingga saat ini belum ada pengaturan yang jelas mengenai
tata-cara pemakaiannya, termasuk juga dalam hal indikasi dari pemeriksaan
ultrasonografi di bidang obstetri.

Standard pemeriksaan USG pada kehamilan trimester I

Pemeriksaan ultrasonografi pada kehamilan trimester I dapat dilakukan dengan cara
transabdominal ( probe diletakkan diatas perut ibu ), transvaginal ( probe khusus yang

dimasukkan ke vagina ), atau keduanya. Jika dengan pemeriksaan transabdominal tidak
berhasil mendapatkan informasi diagnostik, maka jika mungkin pemeriksaan dilanjutkan
dengan cara transvaginal. Begitu pula, jika pemeriksaan transvaginal tidak dapat
menjangkau seluruh daerah yang diperlukan untuk diagnosis, maka pemeriksaan harusdilanjutkan denganm cara transabdominal.

1. Evaluasi uterus dan adneksa untuk melihat adanya kantung gestasi. Jika terlihat
kantung gestasi, maka lokasinya harus dicatat. Pencatatan juga dilakukan terhadap ada-tidaknya mudigah, dan CRL (crown-rump length). CRL merupakan indikator yang lebih
akurat dari diameter kantung gestasi untuk menentukan usia gestasi. Jika mudigah tidakterdeteksi, evaluasi adanya yolk sac di dalam kantung gestasi. Dalam keadaan demikian,penentuan usia gestasi didasarkan atas ukuran diameter rata-rata kantung gestasi, atau morfologi dan isi dari kantung gestasi.

Gambaran difinitif kantung gestasi didasarkan atas terlihatnya yolk sac dan mudigah. Jika struktur embrionik tersebut tidak terlihat, maka diagnosis definitif kantung gestasi harus dilakukan hati-hati. Pada kehamilan ektopik, kadang-kadang terlihat cairan yang terkumpul di dalam kavum uteri dan memberikan gambaran kantung gestasi palsu(pseudogestational sac). Pada akhir trimester I, diameter biparietal ( kepala )dan ukuran-ukuran janin lainnya dapat digunakan untuk menentukan usia gestasi.

2. Ada-tidaknya aktivitas jantung mudigah/janin harus dilaporkan.Diagnosis aktivitas jantung hanya bisa ditentukan dengan USG real-time. Dengan pemeriksaan transvaginal, denyut jantung harus bisa dilihat bila CRL sudah mencapai 5 mm atau lebih. Jika terlihat mudigah kurang dari 5 mm yang belum menunjukkan aktivitas jantung, harus dilakukan follow-up untuk mengevaluasi tanda kehidupan.

3. Jumlah janin harus dicatat.
Kehamilan multipel dilaporkan hanya atas dasar jumlah mudigah yang lebih dari satu.
Kadang-kadang pada awal masa kehamilan terlihat struktur menyerupai kantung yang
jumlahnya lebih dari satu dan secara keliru dianggap sebagai kehamilan multipel, padahal sebenarnya berasal dari fusi selaput amnion dan korion yang tidak sempurna
4. Evaluasi uterus, struktur adneksa, dan kavum Douglasi.
Pemeriksaan ini berguna untuk memperoleh temuan tambahan yang mempunyai arti klinis
penting. Jika terlihat suatu mioma uteri atau massa di adneksa, maka lokasi dan
ukurannya harus dicatat. Kavum Douglasi harus dievaluasi untuk melihat ada-tidaknya
cairan. Jika terlihat cairan di daerah kavum Douglasi, cari kemungkinan adanya cairan ditempat lain, seperti di daerah abdomen dan rongga subhepatik.

Kadang-kadang sulit membedakan kehamilan normal dari kehamilan abnormal dan
kehamilan ektopik ( diluar rahim). Pada keadaan ini pemeriksaan kadar hormon(misalnya
HCG) di dalam serum ibu serta hubungannya dengan gambaran ultrasonografi bisa
membantu diagnosis.

Standard pemeriksaan USG pada kehamilan trimester II dan III

1.Kehidupan janin, jumlah, presentasi, dan aktivitas janin harus dicatat. Adanya frekuensi dan irama jantung yang abnormal harus dilaporkan. Pada kehamilan multipel perlu dilaporkan informasi tambahan mengenai jumlah kantung gestasi, jumlah plasenta, ada-tidaknya sekat pemisah, genitalia janin (jika terlihat), perbandingan ukuran-ukuran janin,dan perbandingan volume cairan amnion pada masing-masing kantung amnion.

2. Prakiraan volume cairan amnion (normal, banyak, sedikit) harus dilaporkan.
Variasi fisiologik volume cairan amnion harus dipertimbangkan di dalam penilaian volume cairan amnion pada usia kehamilan tertentu.

3. Lokasi plasenta, gambaran, dan hubungannya dengan ostium uteri internum harus
dicatat. Tali pusat juga harus diperiksa. Lokasi plasenta pada kehamilan muda seringkali berbeda dengan lokasi pada saat persalinan. Kandung kemih yang terlampau penuh atau kontraksi segmen bawah uterus dapat memberikan gambaran yang salah dari plasenta previa.

Pemeriksaan transabdominal, transperineal, atau transvaginal dapat membantu dalam
mengidentifikasi ostium uteri internum dan hubungannya dengan letak plasenta.

4. Penentuan usia gestasi harus dilakukan pada saat pemeriksaan ultrasonografi pertama kali, dengan menggunakan kombinasi ukuran kepala seperti DBP atau lingkar kepala, dan ukuran ekstremitas seperti panjang femur. Pengukuran pada kehamilan trimester III tidak akurat untuk menetukan usia gestasi.

5. Perkiraan berat janin harus ditentukan pada akhir trimester II dan trimester III, dan memerlukan pengkuran lingkar abdomen ( perut ).

6. Evaluasi uterus (termasuk serviks) dan struktur adneksa harus dilakukan.
Pemeriksaan ini berguna untuk memperoleh temuan tambahan yang mempunyai arti klinis
penting. Jika terlihat suatu mioma uteri atau massa adneksa, catat lokasi dan ukurannya. Ovarium ibu seringkali tidak bisa ditemukan dalam pemeriksaan ultrasonografi pada trimester II dan III. Pemeriksaan cara transvaginal atau transperineal berguna untuk mengevaluasi serviks, bila pada cara pemeriksaan transabdominal letak kepala janin menghalangi pemeriksaan serviks.
penilaian anatomi janin seperti: ventrikel serebri, fossa posterior (termasuk hemisfer serebri dan sisterna magna), four-chamber view jantung (termasuk posisinya di dalam toraks), spina, lambung, ginjal, kandung kemih, insersi tali pusat janin dan keutuhan dinding depan abdomen. Jika posisi janin memungkinkan, lakukan juga pemeriksaan terhadap bagian-bagian janin lainnya. Dalam prakteknya tidak semua kelainan sistem organ tersebut di atas dapat dideteksi melalui pemeriksaan ultrasonografi.

Pemeriksaan tersebut di atas dianjurkan sebagai standar minimal untuk mempelajari
anatomi janin. Kadang-kadang beberapa bagian struktur janin tidak bisa dilihat, karena posisi janin, volume cairan amnion yang berkurang, dan habitus tubuh ibu akan
membatasi pemeriksaan ultrasonografi. Jika hal ini terjadi, maka struktur janin yang tidak bisa terlihat dengan baik harus dicantumkan di dalam laporan pemeriksaan ultrasonografi. Pemeriksaan yang lebih seksama harus dilakukan terhadap suatu organ yang diduga mempunyai kelainan.

Indikasi pemeriksaan USG Pada Kehamilan

Meskipun pemeriksaan ultrasonografi dipandang sebagai prosedur yang aman, namun
pemeriksaan tersebut tidak boleh dilakukan tanpa didasari oleh indikasi medik yang jelas. Di Indonesia belum ada kesepakatan dalam menentukan indikasi pemeriksaan
ultrasonografi obstetri. Pada tahun 1983 – 1984 the National Institutes of Health di
Amerika Serikat, setelah mendapatkan asupan dari sejumlah ahli ultrasonografi yang
berpengalaman, membuat suatu daftar berbagai indikasi pemeriksaan ultrasonografi di
bidang obstetri dan ginekologi.

Indikasi pemeriksaan ultrasonografi di bidang obstetri ( kebidanan )adalah :
1 Prakiraan usia gestasi dengan pemeriksaan ultrasonografi untuk memastikan saat yang
tepat melakukan tindakan seksio sesarea elektif, induksi partus, atau terminasi kehamilan
elektif.
2. Evaluasi pertumbuhan janin pada pasien yang mengalami insufisiensi utero-plasenta
(seperti pada preeklampsia berat, hipertensi kronik, penyakit ginjal kronik, atau diabetes melitus berat) atau komplikasi kehamilan lainnya yang menyebabkan malnutrisi janin(pertumbuhan janin terhambat, makrosomia).
3. Kehamilan yang mengalami perdarahan per vaginam yang tidak diketahui sebabnya.
4. Penentuan presentasi janin, jika bagian terendah janin pada masa persalinan tidak dapatdipastikan.
5. Suspek kehamilan multipel.
6. Untuk membantu tindakan amniosentesis atau biopsi villi khorionik.
7. Terdapat perbedaan antara besar uterus dan usia kehamilan secara klinis.
8. Suspek kehamilan mola.
9. Adanya massa pelvik yang terdeteksi secara klinis.
10. Untuk membantu tindakan pengikatan serviks (cervical cerclage).
11. Suspek kehamilan ektopik.( diluar kandungan )
12. Untuk membantu prosedur khusus dalam kehamilan dan persalinan.
13. Memperlajari perkembangan folikel pada ovarium.
14. Curiga kematian janin.
15. Curiga kelainan uterus.
16. Untuk menetukan letak IUD.
17. Pemeriksaan profil biofisik janin (setelah kehamilan 28 minggu).
18. Mengawasi tindakan intrapartum (misalnya versi-ekstraksi janin kedua pada
gemellus, plasenta manual).
18. Curiga polihidramnion ( ketuban banyak) atau oligohidramnion ( ketuban sedikit)
19. Curiga solusio plasenta ( plasenta yang terlepas )
20. Untuk membantu tindakan versi luar pada janin sungsang.
22. Prakiraan berat janin dan/atau presentasi janin pada ketuban pecah atau persalinan prematur.
23. Jika terdapat kadar alfa-fetoprotein yang abnormal di dalam serum ibu.
24. Follow-up kelainan janin yang sudah diketahui sebelumnya.
25. Riwayat kelainan kongenital pada kehamilan sebelumnya.
26. Pemeriksaan serial pertumbuhan janin pada kehamilan multipel.
27. Prakiraan usia gestasi pada pasien yang terlambat melakukan pemeriksaan antenatal.

Demikian sekilas tentang pemeriksaan USG kebidanan pada ibu hamil, kelainan2 yang di
dapat akan terdeteksi dengan USG....Untuk penentuan jenis kelamin sebenarnya di dunia
medis bukan merupakan indikasi pemeriksaan USG, namun demikian biasanya saat usia
kehamilan 7 -8 bulan jenis kelamin akan terlihat. Akan tetapi karena posisi janin yangkadang ada yang menutupi kelaminnya sehingga tidak terlihat jelas sebaiknya tidputuskan jenis kelaminnya, karena akan menimbulkan kekecewaan pada ibu hamil

Selasa, 03 Mei 2011

DISKOGRAPHY, NUCLEOGRAPHY dan CEREBRAL PNEUMOGRAPHY.

Berhubung dari adik-adik tingkat banyak yang menanyakan tentang pemeriksaan DISKOGRAPHY, NUCLEOGRAPHY dan CEREBRAL PNEUMOGRAPHY.. sebenarnya apa sih yang dimaksud pemerikssan tersebut udah di cari dari berbagai referensi kok tidak bisa menemukan. jadi pada kesempatan ini saya akan memposting pemeriksaan tentang DISKOGRAPHY, NUCLEOGRAPHY dan CEREBRAL PNEUMOGRAPHY, yang saya peroleh dari Dosen saya Tercinta Bpk. NUr Utama. silakan di Dibaca.

DISKOGRAPHY & NUCLEOGRAPHY

Adalah istilah yang umum digunakan untuk meng
ungkapkan tentang pemeriksaan radiologis dari
individual diskus intervertebralis degan memasuk
kan salah satu jenis media kontras yodium water
soluble langsung kedalam diskus tertentu dengan
double needle.
(Telah diperkenalkan oleh Lindblom pada tahun
1950 dikembangkan oleh Cloward dan Bun).
Diskography dilakukan untuk mengevaluasi keada
an/lesi pada masing-masing diskus intervertebralis
seperti ruptur necleus pulposus yang tidak dapat di
evaluasi dengan pemeriksaan myelography.
Pemeriksaan ini dapat dilakukan bersamaan de
ngan myelography atau secara terpisah.
Pemasukan jarum dilakukan dengan bantuan fluo
roscopy dan media kontras dimasukan sesuai kebu
tuhan serta radiograph diambil dengan proyeksi
lateral dan jika perlu oblique.

Pemasukan jarum didaerah lumbal dan thoracal
dilakukan dari posterolateral sedangkan pada dae
rah cervical dari anterolateral.

CEREBRAL PNEUMOGRAPHY
Cerebral pneumogaphy adalah istilah yang umum
digunakan untuk mengungkapkan tentang pemerik
saan radiologi dari otak (brain) dengan memasuk
kan media kontras negatif (gas) sistem ventricle
otak dan ruang sbarachnoid otak lainnya.
Karena homogenitas densitas antara jaringan otak
dan csf pada radiography konvensional kepala
maka untuk menampilkan kelainan-kelainan yang
non kalsifikasi pada struktur intracranial diperlu
kan pemberian media kontras.
Media kontras negatif/gas (udara, oksigen atau car
bondioksida) lebih menarik untuk digunakan pada
pemeriksaan cerebral pneumogaphy bila dibanding
kan dengan media kontras positif karena tidak me
nyebabkan iritasi pada dinding ventricle otak dan
mudah diserap didalam ruang subarachnoid.

Cerebral pneumography bermanfaat untuk menun
jukkan gambaran SOL intracranial yaitu dengan
nampilkan filling defects atau deformation pada
gambaran outline gas yang mengisi ventricle otak
atau subarachnoid cisternae & channels.

Pada metode pneumoventriculography (direct cere
bral pneumography) media kontras diuntikan lang
sung kedalam ventricle lateral; Sedangkan pada
pneumoencephalography (indirect cerebral pneumo
graphy) media kontras dimasukan melalu punksi
spinal (lumbal).

Istilah ini menunjukkan tentang struktur intracra
nial yang ditampilkan dengan masing-masing me
tode. Dengan memasukkan langsung gas kedalam
sistem ventricle otak maka yang dapat dievaluasi
adalah permukaan bagian dalam dari masing-ma
sing ventricle; Sedangkan apabila melalui ruang sub
arachnoid didaerah lumbal maka gas akan mengisi
seluruh ruang subarachnoid otak pada cortex, cis
ternae dan sistem ventricle.
Masing masing metode pemasukan media kontras
mempunyai indikasi dan kontra indikasi spesifik
sesuai dengan tipe dan lokasi kelainan intracranial
itu sendiri.
Pemeriksaan cerebral pneumography dengan meto
de pneumoventriculography pertama kali diperke
nalkan oleh “ Dandy” pada tahun 1918 metode
pneumoencephalography pada tahun 1919.
Pada metode pneumoencephalography kontras me
dia disuntikan kedalam ruang subarachnoid mela
lui punksi spinal yang akan naik dari tempat ia di
masukan menuju sistem ventricle otak melalui
foramen Magendi dan juga masuk keseluruh ruang
subaracnoid otak.

Pada metode pneumoventriculography kotras media
disuntikan langsung kedalam ventrcle lateral otak
dengan membuat lubang kecil dengan bor pada din
ding rongga tengkorak atau melalui punksi fonta
nel pada bayi.

Rabu, 23 Maret 2011

Berbagi Ilmu Tentang Teknologi Nuklir

Setelah gempa dan Tsunami yang melanda Jepang, Tema tentang "Nuklir" menjadi sangat hangat dibicarakan. Mulai oleh para ahlinya sampai para awam yang tidak tau apa-apa tentang Nuklir. dari berbagai forum dan media yang saya ikuti, ternyata masih sangat banyak warga negara Indonesia yang sama sekali tidak tau tentang apa itu Nuklir? bagaimana bentuknya? apa manfaatnya? bagaimana bisa menjadi pembangkit energi? dls. untuk itu silahkan simak baik-baik dibawah ini :

1. apa itu nuklir
Nuklir adalah sebutan untuk bentuk energi yang dihasilkan melalui reaksi inti, baik itu reaksi fisi (pemisahan) maupun reaksi fusi (penggabungan). Sumber energi nuklir yang paling sering digunakan untuk PLTN adalah sebuah unsur radioaktif yang bernama Uranium. Bagaimana caranya sebuah unsur radioaktif mampu menghasilkan panas yang besar? Tentu saja bukan dengan dibakar. Namun melalui reaksi pemisahan inti (reaksi fisi). Biar tidak terlalu rumit penjelasannya, perhatikan gambar berikut :

Atom uranium (U-235) (digambarkan dengan warna hitam merah di sebelah kiri) memiliki inti yang tidak stabil ketika ada neutron (warna hitam di paling kiri) yang ditembakkan pada inti atom tersebut, maka inti atom uranium akan membelah menjadi dua buah inti atom, yakni atom Barium (Ba-141) dan atom Kripton (Kr-92) serta tiga neutron (warna hitam di kanan). Jika ingat ama pelajaran kimia, silahkan cek nama-nama unsur tadi dalam sistem periodik unsur. Masih ingat dengan hukum kekekalan massa-energi bukan (pelajaran Fisika kelas 3 SMA)? Nah, karena massa atom sebelum pembelahan lebih besar dari pada massa atom setelah pembelahan, maka selisih massa (disebut defek massa) tersebut berubah menjadi energi panas yang besarnya sekitar 200 MeV (Mega elektron volt), ini baru satu buah inti atom. satu gram uranium saja tentu memiliki banyak inti. Sehingga panas yang dihasilkan pun luar biasa besar.

2. Sebentar, Uranium itu bentuknya apa?gas?cair?atau padat?:
Uranium itu salah satu bahan tambang, jadi berupa padatan (mirip batuan). nih gambarnya

3.Apakah Indonesia punya tambang Uranium?
jawabanya ane cuplik dari kantor Berita ANTARA
"Indonesia memiliki cadangan uranium 53 ribu ton yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), yakni sebanyak 29 ribu ton di Kalimantan Barat dan 24 ribu ton sisanya ada di Bangka Belitung.
"Selain itu Papua juga diindikasikan memiliki cadangan uranium yang cukup besar. Tapi soal ini masih akan diteliti dulu," kata Deputi Pengembangan Teknologi Daur Bahan Nuklir dan Rekayasa Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Dr Djarot S Wisnubroto kepada pers di Jakarta, Selasa malam.
Perkiraan bahwa Pulau Papua menyimpan cadangan uranium atau bahan baku nuklir dalam jumlah besar didasarkan pada kesamaan jenis batuan Papua dengan batuan Australia yang telah diketahui menyimpan cadangan uranium terbesar di dunia, ujarnya.
Jika suatu PLTN seukuran 1.000 MW membutuhkan 200 ton Uranium per tahun, maka dengan cadangan di Kalbar saja yang mencapai 29 ribu ton Uranium, urai Djarot, itu berarti bisa memasok Uranium selama 145 tahun"

4. Kok bisa nuklir jadi listrik?
Energi yang dibebaskan oleh reaksi fisi Uranium ini berupa energi panas. Energi panas digunakan untuk menguapkan air sehingga timbul uap bertekanan tinggi yang dapat memutar turbin, turbin memutar generator dan terciptalah listrik


5. Apa kelebihan nuklir?:
Dibandingkan dengan sumber energi yang lain, Energi Nuklir merupakan sumber energi yang paling tinggi kerapatan energinya (jumlah energi persatuan volume atau massa)
1 kg uranium dapat menghasilkan energi sekitar 50.000 kwh (kilo watt jam)
1 kg batubara hanya dapat menghasilkan energi sekitar 3 kwh
1 kg minyak bumi hanya dapat menghasilkan sekitar 4 kwh

6. Bagaimana desain PLTN
salah satu jenis PLTN adalah Pressurized Water Reactor (PWR), Reaktor jenis ini adalah reaktor paling umum, 230 PLTN di seluruh dunia menggunakan jenis ini. gambar skemanya :

Lihat, air yang bersuhu tinggi dan yang bersentuhan langsung dengan bahan bakar Uranuim (warna merah) selalu berada di dalam containment, containmentnya sendiri dibuat dengan bahan struktur yang tidak mampu ditembus oleh radiasi yang dipancarkan saat terjadi reaksi inti. di dalam reactor vessel juga terdapat control rod yang berfungsi sebagai batang pengendali reaksi inti. selain jenis PWR, jenis-jenis lain dari reaktor nuklir yang tidak bisa saya jelaskan.

7. Bagaimana sistem pengamanan Reaktor Nuklir agar tidak bocor?
Dalam teknologi reaktor dikenal istilah sistem keselamatan berlapis yaitu lapisan penghalang terlepasnya zat radioaktif ke lingkungan. Sebagai gambaran disajikan sistem penghalang pada suatu reaktor daya, yaitu:

* Kristal bahan bakar
* Kelongsong elemen bakar
* Bejana tekan
* Bejana keselamatan
* Sistem penahan gas dan cairan aktif
* Perisai biologis
* Gedung reaktor
* Sistem tekanan negatif

Bila prisisp-prisip keselamatan ini digunakan dalam pembangunan reaktor, niscaya keselamatan operasi reaktor akan terjamin.

8. Di dunia ini sudah ada berapa banyak PLTN?
Nih daftarnya (tapi ni data tahun 2006) nyari yang update belum dapat


9. Dari PLTN sebanyak itu, sudah terjadi kecelakaan berapa kali?
Selama 64 tahun terakhir terjadi 31 kecelakaan Reaktor Nuklir yang merenggut korban 539 orang, 186 diantaranya meninggal.
Bandingkan dengan data kecelakaan yang lain:
Dalam 18 tahun terakhir ada 14 kecelakaan di Industri Kimia yang merenggut korban 64.652 orang, 4.287 diantaranya meninggal. Khusus di Indonesia dalam 5 tahun terakhir ada 76.866 orang korban kecelakaan lalu lintas, 54.733 diantaranya meninggal (30 orang/hari) (data ini diambil tahun 2006). Jadi, lebih bahaya PLTN atau sepeda motor?

10. Meski pengamanannya tinggi, tetap saja berbahaya kan?
bahaya yang ditimbulkan dari pembangkitan listrik menggunakan energi nuklir hanyalah pada masalah radiasi. selama radiasi ini dapat ditahan agar tidak bocor ke lingkungan, maka PLTN akan aman. lalu apa akibatnya jika terjadi kebocoran sedikit saja, misal ketika terjadi gempa dan tsunami di jepang? selama dosis radiasi yang mengenai tubuh kita masih di bawah ambang batas, maka tidak ada efek yang berarti bagi tubuh. ambang batas dosis serapan radiasi yang ditetapkan saat ini adalah 50 milisevert (mSv) per tahun. waktu gema jepang kemaren? berapa kebocorannya? Dari info yang saya peroleh dari dosen saya, dosis radiasi di batas luar PLTN (bukan daerah evakuasi) ketika terjadi ledakan Unit 3 adalah sekitar 700 micro Sv per jam. Artinya, jika seseorang berada di lokasi tersebut selama satu jam terus menerus, tanpa berpindah-pindah, dia akan menerima dosis sebesar 700 micro Sv. atau jika dikonversikan dalam satu tahun berarti 6,1 Sv.

Tetapi perlu diingat pula bahwa material radioaktif itu meluruh, sehingga dosisnya juga akan berkurang seiring waktu. Cepat atau lambatnya tergantung dari jenis material radioaktifnya. Dengan kata lain, secara akumulatif nilai dosisnya akan lebih rendah daripada 6 Sv. Faktor yang lain adalah meterologis. Mengingat adanya aliran udara, maka kemungkinan besar akan ada efek dilution (pengenceran), jadi kembali ada pengurangan dosis juga untuk jangka panjang. Lagipula, tidak mungkin kan kita diem aja selama satu tahun di situ. Jika kita pernah melakukan foto rontgen (sinar X) di dada, maka kita menerima 100 micro Sv. Sinar X di perut menyumbang 600 micro Sv dan di pinggul sebesar 700 micro Sv. Bahkan kalau kita pernah melakukan CT scan, kita menerima dosis sebesar 10000 micro Sv. Bahkan, sebenarnya dalam keseharian kita, kita pasti menerima pancaran radiasi baik dari makanan, bahan bangunan, radiasi sinar kosmis dari luar angkasa, dll. Tapi dosisnya sangat rendah.

Tetapi tahukah anda? bahwa pembangkit listrik tenaga batubara (yang saat ini kita pakai) pun mengandung bahaya yang tidak kalah dengan bahaya radiasi nuklir. pembakaran batu bara menghasilkan gas-gas berbahaya, juga gas-gas yang termasuk gas rumah kaca penyebab global warming, hujan asam, gangguan pernafasan dan lain-lain. parahnya lagi, gas-gas ini kebanyakan dibuang begitu saja ke lingkungan, berbeda dengan teknologi PLTN yang senantiasa menjaga agar radiasinya tetap berada di dalam reaktor. Data yang ane dapat nih, pembakaran batubara di seluruh dunia menciptakan sekitar 9 milyar ton CO2 per tahun. Perbandingan dengan sumber energi lain ane tampilkan dalam gambar berikut :


11. maaf, emang bahaya terkena paparan radiasi itu apa?
Jika dosis serapan radiasi yang mengenai tubuh kita melebihi ambang batas yang telah ditetapkan tadi, efeknya adalah kerusakan sel tubuh dan kelainan gen (DNA). akibatnya adalah cacat, kanker, mandul, dls. sekali lagi, hal ini hanya akan terjadi jika radiasi yang kita serap melebihi ambang batasnya.

12. Apa Indonesia punya Tenaga Ahli di Bidang Nuklir?
yang jelas Indonesia sudah punya BATAN (Badan Tenaga nuklir Nasional) yang berisikan para ahli Nuklir. di luar BATAN masih banyak para lulusan S2 dan S3 luar negeri maupun dalam negeri yang sangat kompeten. Beliau-beliau umumnya sekarang mengajar di Perguruan Tinggi yang ada jurusan Teknik Nuklirnya. Belum lagi ahli-ahli kita yang memilih untuk berkarya di negeri orang (karena tidak "terpakai" di negeri sendiri). Jika masih ada yang meragukan dengan mengatakan, lumpur lapindo aja bisa bocor, atau bahkan soal ujian Nasional aja bisa bocor, apalagi kalo Nuklir?? logika mudahnya gini aja Gan, klo lumpur Lapindo dan soal ujian Nasional bocor, siapa yang dirugikan? pastinya bukan orang yang membocorkannya. tapi kalau Radiasi nuklir sampai bocor, yang pertama kali kena tentu yang membocorkannya. Jadi para pekerja di PLTN tentu sangat tau risikonya, sehingga mereka akan bekerja sangat disiplin dan profesional.

Jumat, 17 Desember 2010

TRANSFER FILM BOX

Transfer Film Box merupakan sebuah alat yang fungsinya hampir sama dengan kamar gelap, perbedaannya terletak pada kegunaannya yang sebatas hanya sebagai tempat untuk proses loading dan unloading kaset, di dalamnya terdapat 2 buah box/kotak yang fungsinya sebagai tempat film yang telah di ekspose dan unexpose. Transfer film box biasanya digunakan apabila dilakukan medical check up dilapangan. Cara kerja atau cara penggunaan dari transfer film box ini yaitu :

1.Kaset + Film yang telah di ekspose dimasukkan ke dalam transfer film box melalui lubang yang telah disediakan di bagian depan.

2.Setelah kaset + film dimasukkan ke dalam transfer film box, kemudian operator memasukkan ke dua tangannya ke dalam transfer film box melalui lubang yang telah disediakan pada bagian belakang.

3.Kemudian dilakukan proses unloading kaset dengan cara membuka kaset yang telah berada di dalam transfer film box dan film yang ada di dalam kaset tersebut diambil untuk kemudian dimasukkan ke dalam box/kotak film (box expose film) yang telah disediakan di dalam transfer film box.

4.Setelah itu dilakukan proses loading kaset atau memasukkan film yang belum di ekspose ke dalam kaset. Film yang belum di ekspose telah tersedia di dalam box/kotak film yang berada di dalam transfer film box.

5.Kemudian kaset yang telah di isi kembali dengan film unexpose dikeluarkan melalui lubang depan dan dapat dipergunakan untuk melakukan pemeriksaan rontgen.

6.Apabila box/kotak tempat menyimpan film yang telah di ekspose penuh, maka transfer film box dapat dibuka, kemudian film-film yang telah di ekspose di ambil untuk kemudian di cuci di kamar gelap yang sesungguhnya.

Kamis, 16 Desember 2010

CT SCAN

Sekilas Mengenai Dasar-Dasar CT-Scan
A. Dasar-Dasar CT-Scan
CT-Scan adalah suatu pencitraan radiodiagnostik yang dapat menghasilkan gambar dan irisan atau bidang tertentu tubuh pasien dan memberi informasi diolah komputer sintesa dari sinar –x dengan data yang ditampilkan pada video display. CT-Scan diperkenalkan pertama kali pada kongres tahunan di British Institute Radiology bulan April 1972, oleh seorang ilmuwan senior bernama G.N Hounsfield yang bekerja untuk EMI Limited di Middilesex Inggris. CT Scan merupakan perpaduan antara teknologi sinar-x, komputer dan televisi sehingga mampu menampilkan gambar anatomi tubuh bagian dalam manusia dalam bentuk irisan atau slice ( Rasad : 1992)
B. Perkembangan CT-Scan
1. CT-Scan generasi pertama
Prinsip kerja Scanner CT-Scan generasi pertama ialah menggunakan pancaran berkas sinar –x berbentuk pensil yang diterima oleh salah satu atau dua detektor. Waktu yang dibutuhkan untuk 1 slice dengan rotasi tabung sinar-x dan detektor sebesar 180° adalah seki
tar 4,5 menit.
2. CT-Scan generasi kedua
Pada generasi ini prinsip dasar scanner mengalami perbaikan yang cukup besar dibandingkan dengan generasi pertama. Pancaran berkas sinar – x yang dihasilkan ialah model kipas angin dengan jumlah detektor 30 buah serta waktu scanning sangat pendek. Waktu scanning hanya 15 detik untuk 1 slice atau 10 menit untuk 40 slice.
3. CT-Scan generasi ketiga
CT-Scan generasi ini telah menggunakan detektor sejumlah 960 buah dengan rotasi tabung dan detektor sejauh 360° secara sempurna dalam menghasilkan 1 slice data jaringan selama 1detik.
4. CT-Scan generasi ke empat
CT-Scan generasi keempat disebut dengan CT helical atau CT Spiral. Kelebihannya penggambaran organ akan lebih cepat dan dapat diolah menajdi gambar tiga dimensi melalui pengolahan komputer. Generasi ini menggunakan teknologi fixed-ring yang mempunyai 4800 detektor. Saat pemeriksaan tabung sinar-x berputar 360° mengelilingi detektor yang diam dengan waktu scanning sama dengan CT Scan generasi ketiga. (Bontrager:2000)
C. Komponen Dasar CT-Scan (Tortorici:1995)
Komponen Utama CT-Scan yaitu :
1. Sistem penggambaran
Yakni terdiri atas gantry (rumah tabung) yang meliputi tabung sinar-x detektor. Gantry memiliki bentuk lingkaran yaitu segi empat dimana ditengahnya terdapat lubang yang berfungsi untuk scanning pasien. Tabung sinar-x merupakan komponen penting dalam CT-Scan hampir mirip dengan tabung sinar-x konvensional. CT-Scan memiliki 2 kolimator yaitu kolimator pre pasien dan kolimator pre detektor. Kolimator pre pasien berada didalam gantry dan merupakan pembatas sinar menuju pasien yang berfungsi sebagai pembatas dosis pasien. Kolimasi pre detektor berlokasi didepan detektor untuk menjaga kualitas gambar dengan menurunkan radiasi hambur. Pada saat eksposi berkas sinar–x (foton) yang menembus pasien mengalami perlemahan (atenuasi) kemudian di tangkap oleh detektor. Kemampuan penyerapan detektor yang tinggi akan menghasilkan kualitas gambar yang dihasilkan menjadi lebih baik.
2. Meja Pemeriksaan (Couch)
Meja pemeriksaan merupakan tempat untuk memposisikan pasien. Meja ini biasanya terbuat dari fiber karbon. Dengan adanya bahan ini maka sinar–x yang menembus pasien tidak terhalang jalannya untuk menuju detektor. Meja ini harus kuat dan kokoh mengingat fungsinya menopang tubuh pasien selama meja bergerak ke dalam gantry.
3. Sistem Konsul
Konsul bersedia dalam berbagai variasi. CT-Scan generasi awal masih menggunakan dua sistem konsul yaitu untuk pengoperasian CT-Scan sendiri dan untuk perekaman dan pencetakan gambar. Model yang terbaru sudah memakai sistem konsul dimana memiliki banyak kelebihan dan fungsi. Bagian dari sistem konsul yaitu :
a. Sistem Kontrol
Pada bagian ini petugas dapat mengontrol parameter-parameter yang berhubungan dengan beroperasinya CT-Scan seperti pengaturan KV, MA dan waktu scanning, ketebalan irisan dan lain-lain. Juga dilengkapi keyboard untuk memasukkan data pasien dan pengontrolan fungsi tertentu dalam komputer.
b. Sistem pencetakan
Setelah gambar CT-Scan diperoleh kemudian dipindahkan dalam bentuk film. Pemindahan ini dengan menggunakan kamera multiformat. Kamera merekam gambar dari monitor dan memindahkannya kedalam lembaran film. Tampilan gambaran di film dapat mencapai 2-24 gambar tergantung ukuran film (8 x 10 inci atau 14 x 17 inci).
c. Sistem perekaman gambar
Merupakan bagian penting lain dari CT-Scan. Data yang telah ada disimpan dan dapat ditampilkan lagi dengan cepat. Biasanya sistem perekaman ini berupa disket optic dengan kemampuan penyimpanan data sekitar 200 gambar.




D. Parameter CT-Scan
1. Scanogram
Merupakan langkah awal dalam scanning untuk menentukkan posisi pada slice. Pada operator console, pengaturan scanogram dengan pilihan top view (scanogram dengan posisi AP atau PA) dan slide view (scanogram dari posisi lateral) dalam scanoscope.

2. Range
Range adalah kombinasi dari beberapa silce thickness untuk mendapatkan ketebalan irisan yang sama pada satu lapangan pemeriksaan. Lapangan pemeriksaan untuk CT-Scan lumbal adalah dari Lumbal 1 sampai dengan Sacrum I.

3. Slice thickness
Adalah tebalnya irisan obyek yang biasanya digunakan adalah slice thickness 10 mm. Ada daerah yang strukturnya kecil dapat digunakan slice thickness 5 mm, 2 mm, atau 1mm.

4. Waktu Scan Waktu scan yang terbaik adalah waktu scan yang cepat dan utamanya bermanfaat pada scan pediatrik atau pada pasien yang tidak dapat tahan napas.

5. Pengaturan MA Pengaturan MA akan menhasilkan perubahan ukuran fokus dan kuantitas sinar –x yang dihasilkan. Pilihan penggunaan MA disesuaikan dengan ukuran pasien, posisi scan thickness.

6. Field of View (Fov) Field of view adalah diameter maksimal dari gambar yang akan direkontruksi. Banyak bervariasi antara rentang 12+50 cm. FOV yang kecil akan meningkatkan resolusi gambaran karena FOV yang kecil dapat mereproduksi ukuran pixcel (picture element).

7. Gantry Tilt Gantry tilt adalah sudut yang dibentuk antara bidang vertikal dengan gantry (tabung sinar-x dan detektor). Rentang penyudutan antara -20° sampai +20°. Tujuan penyudutan adalah untuk keperluan diagnosa dan untuk mereduksi dosis radiasi terhadap organ-organ yang sensitiif seperti mata.

8. Rekonstruksi Algoritma Rekontruksi algoritma adalah prosedur matematis (algoritma) yang digunakan untuk merekontruksi gambar. Hasil dan karakteristik gambar CT-Scan tergantung kuat lemahnya algoritma yang dipilih. Semakin tinggi rekontruksi algoritma akan menghasilkan resolusi gambar.

9. Window Level Window level adalah nilai tengah dari window yang digunakan untuk menampakkan gambar. Nilai dapat memilih dan tergantung pada karakteristik dari struktur obyek yang diperiksa. Window level menentukan densitas gambar.

10. Window Width Window width adalah rentang nilai computed yang di konversi menjadi gray scale untuk ditampilkan dalam monitor. Setelah komputer menyelesaikan pngolahan gambar melalui rekontruksi matriks dan algoritma hasilnya akan dikonversi menjadi skala numerik yang dikenal dengan nama Computed Tomography.

Berikut Tabel CT Number dengan satuan HU dalam menampakkan jaringan (Bontrager:2001).



SUMBER http://catatanradiograf.blogspot.com

MAKRORADIOGRAFI

Makroradiografi ialah teknik radiografi yang digunakan untuk memperoleh gambaran yang diperbesar dari gambaran awalnya (gambaran yang sebenarnya).
Tujuan dari pembuatan gambar makroradiografi ialah untuk memperoleh informasi yang lebih jelas, yang tidak diperoleh dari hasil radiograf biasa diakibatkan oleh ukuran dari bagian – bagian tersebut yang teramat kecil misalnya tulang yang berukuran kecil, saluran- saluran, dsb.
PRINSIP PEMERIKSAAN
Teknik makroradiografi menggunakan prinsip magnifikasi atau pembesaran ukuran objek dari ukuran sebenarnya dengan cara meletakkan objek pada jarak tertentu dari film.
Adapun prinsip pemeriksaan teknik makroradiografi antara lain :

* Tanpa grid karena adanya air gap yang diakibatkan oleh OFD (objek film distance) yang lebih besar
* Gambaran yang dihasilkan akan lebih besar dari gambaran yang sebenarnya bergantung pada pembesaran yang diinginkan
* Pemilihan focus kecil guna mengurangi ketidaktajaman gambar
* Faktor eksposi lebih besar dikarenakan adanya pengaruh dari FFD dan Air Gap

Teknik makroradiografi dapat dilakukan dalam dua cara yaitu:

1. Mengubah FFD (focus - film distance) tanpa mengubah OFD (objek - film distance)
2. Mengubah FOD (focus - objek distance)tanpa mengubah FFD (focus - film distance)

PENGUKURAN
Pembesaran objek yang dihasilkan dapat diukur menggunakan rumus :



FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH
1. Faktor Pembesaran

* Jarak OFD = FOD maka objek terletak diantara 2 focus
* Pembesaran bertambah bila OFD ditambah atau diperbesar
* Pemilihan ukuran focus berkaitan dengan adanya Ug (Unsharpness Geometric). Ukuran focus yang semakin kecil akan memperkecil ketidaktajaman geometri.

2. Faktor Ketidaktajaman Geometri

* Unsharpness Geometric berbanding lurus dengan ukuran focus yang digunakan
* UG berbanding terbalik dengan FOD dan
* UG berbanding lurus dengan OFD

3.Faktor Ketidaktajaman karena Gerakan

* Gunakan peralatan fiksasi untuk mengurangi gerakan pasien
* Pergerakan pasien dapat menimbulkan Movement Unsharpness

4. Faktor Eksposi

* Pemilihan Faktor Eksposi dipengaruhi oleh adanya Air gap antara objek dan film.
* Semakin besar Air Gap maka Faktor eksposi yg digunakan akan makin besar.

5. Faktor Posisi

* Tabung sinar – X harus diatur tegak lurus terhadap film dan objek
* Bidang objek dan film diatur sejajar
* Adanya kemiringan dari objek dapat mengakibatkan terjadinya distorsi gambar

CONTOH TERAPAN

* FOD Tetap dan FFD yang Berubah

Diketahui : MF = 1,5 dan OFD1 = 0 cm, dan OFD2 = 40 cm maka :

Perubahan FFD, diikuti perubahan Faktor Eksposi

Rabu, 15 Desember 2010

MAMOGRAFI

MAMOGRAFI

Adalah pemeriksaan payudara secara radiology u/ mendeteksi dini kanker payudara.

Tanda2 kanker payudara
1. adanya perubahan kulit payudara ( seperti kulit jeruk )
2. teraba ada benjolan di payudara
3. keluaran cairan / darah
4. ada rasa tidak enak di sekitar payudara
5. rasa kemeng di daerah aksila

mammografi lebih baik di lakukan pada saat subur yaitu 1 minggu setelah haid dan tidak boleh saat haid / menjelang haid karena ada perubahan hormonal.

Kontra indikasi
1. saat menstruasi
2. saat menyusui
3. pada wanita yang memakai silikon karena pada silikonnomor atomnya sangat tinggi, dan nomor atom yang tinggi mengakibatkan gambaran opaq sehingga tidak menampakan parenkim / serabut2 pada payudara.

Kv maksimal pada pesawat mammae adl 35 kv karena objek yang dfoto adl soft tissue, sedangkan mAs yang digunakan sangat tinggi y/ 500 mAs.

Mastektomi adalah pengambilan seluruh bagian payudara
Pada proyeksi obliq axila harus tampak karena pada axila terdapat kelenjar pectolaris.





Proyeksi pada mammografi :
1. cranio caudal
2. mediolateral 90o / lateral
3. lateromadial
4. obliq
5. kleopatra

MEDIOLATERAL
1. posisi hadap kanan ( duduk / berdiri )
putar tabung 90 o
mammae pada pertengahan film
pasien maju sedikit & tangan pegangan pada pegangan kaset
bahu rileks
batas lateral pada rusuk
angkat mammae pada bentuk normal lalu di kompresi

2. recumben
tidur miring
lengan yang diamati diangkat
kaset diletkan didepan axila
mammae yang lain tarik ke posterior
kolimasi pada mammae saja

craniocaudal ( duduk / berdiri )
1. tempatkan mammae pada film
2. batas tepi film berad dalm dinding dada di bawah payudara
3. suruh pasien untuk menekan dada ke film shg mammae infor berada pada film
4. bahu rileks
5. kepala menjauh
6. kolimasi sesuai
7. informasikan tentang tindakan kompresi
8. cek kembali mammae sebelum kompresi
9. kompresi scra perlahan – lahan
10. setelah kompresi pasien suruh tahan nafas dan eksposi



mammografi terutama di gunakan untuk :
1. wanita yang berumur lebih dari 35 th
2. wanita yang tidak menikah
3. wanita yang tidak punya anak
4. wanita yang melahirkan anak pertamanya, umurnya lebih dari 30th
5. wanita pada masa menopouse
6. wanita yang punya silsilah keluarga terkena kanker

variasi pada jaringan mammae:
1. wanita post pubertal = berisi jaringan konektif, berdensitas tinggi, radiografinya homogen dengan sedikit perbedaan jaringan
2. wanita hamil = sampai akhir menyusui, hipertrophi yang signifikan pada kelenjar duck nya, mammae sangat dense & opaq ( tidak kontras )
3. wanita yg tdk menyusui lagi = terjadi involsi besar pada kelenjar dan parenkimnya sehingga terjadi penimbunan lemak dan kontras tinggi
4. wanita menopouse = kelenjar mammae mengalami ” ATROPI GRADUAL ”
5. terjadi akumulasi lemak & kelenjar yang berbeda pada setiap orang.

Standart alat mammografi

1. kaset ber IS tunggal dengan kualitas tinggi
2. film beremulsi tunggal mengurangi pa2ran radiasi, image lebih baik
3. kompresi mammae
4. teknik KV rendah ( 28 – 36 ) dengan transformer khusus
5. tabung X – ray dangan Target Molibdenum ( produksi energi rendah )
6. ada filter tambahan 0.03 mm = 0.5 mm Al
7. fokus kecil
8. kolimasi berkas
9. pasewat lengkap dengan variasi posisi pasien

kaset radiologi dan kamar gelap

1.Kamar Gelap

Pemeriksaan radiograf merupakan salah satu upaya kegiatan medis dalam menegakkan diagnosa. Keberhasilan menghasilkan radiograf yang berkualitas dan memiliki standar estetika radiografi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Salah satunya adalah aktivitas di kamar gelap (dark room) selama melakukan kegiatan prossesing film radiografi.
Kegiatan prossesing radiografi dilaksanakan di kamar gelap diawali dari daerah kering dengan memasukkan film radiografi yang belum di ekspos (unekspose) ke dalam kaset yang selanjutnya dilakukan eksposi terhadap film tersebut. Kegiatan selanjutnya adalah unloading yaitu mengeluarkan film radiografi dari dalam kaset untuk dilakukan prossesing film radiografi. Sedangkan kegiatan yang dilakukan di daerah basah adalah aktivitas memproses film secara kimiawi.
Karena, begitu pentingnya kamar gelap, maka hal-hal di bawah ini merupakan sekelumit tentang kamar gelap yang harus diperhatikan. Diantaranya adalah :
1. Fungsi Kamar Gelap
Tempat untuk mengisi dan mengeluarkan film dari kaset
Tempat untuk memasukkan film pada automatik prosessor
Tempat pemeliharaan kaset, intensyfing screen, dan automatic processor.
Tempat penyimpanan unekspose film.
Tempat membuat duplikasi dan subtraksi film.
Tempat melakukan silver recovery.

2 Lokasi Kamar Gelap
2.1. Ditempatkan pada tempat yang strategis., sehingga mudah di capai dari tempat-tempat pemotretan.
2.2. Berdekatan dengan kamar sortir film
2.3. Dekat dengan ruang arsip
2.4. Dianjurkan untuk dua kamar pemotretan tersedia satu kamar gelap.

3. Konstruksi Kamar Gelap
3.1. Ukuran :
Luas 3 X 3 m persegi dengan tinggi 2,75 m
3.2. Lantai
Bahan tidak mudah kropos.
Tahan terhadap cairan pencuci film.
Tidak licin, jika lantai basah.
3.3. Dinding.
Warna terang
Memantulkan cahaya
Mudah dibersihkan
3.4. Langit-langit.
Di cat dengan warna yang tidak mengelupas


1.4. Proteksi Radiasi Kamar Gelap
Ketebalan dinding di buat equivalen 2 mm Pb
Tembok biasa dengan ketebalan 20 – 25 cm
Dinding beton cor setebal 15 cm
Tembok biasa dapat dilapisi dengan plat Pb 2 mm



2.Kaset
Untuk melindungi film x-ray yang telah maupun belum di ekspose diperlukan suatu alat yang disebut kaset. Kaset, dalam panggunaannya selalu bersama dengan intensyfing screen yang terletak di depan dan dibelakang film. Kaset memili berbagai fungsi, diantaranya adalah: melindungi intensyfing screen dari kerusakan akibat tekanan mekanik, menjaga intensyfing screen dari kotoran dan debu. Selain itu kaset juga berfungsi menjaga agar film dapat dengan rapat menempel pada kedua intensyfing screen yang terletak di depan dan belakang kaset tersebut secara sempurna serta membatasi radiasi hambur balik dari belakang kaset.
kaset memilki berbagai macam ukuran. Diantaranya adalah berukuran : (18 X 24) cm, (24 X 30) cm, (30 X 40) cm, (35 X 35) cm dan (35 X 43) cm. Penggunaan berbagai macam kaset ini ditentukan oleh objek yang akan di periksa.sebagai contoh adalah pemeriksaan pada manus. Karena objeknya kecil maka untuk effisiensinya menggunakan kaset yang berukuran (18 X 24) cm. adapun ciri-ciri konstruksi kaset yang ideal menurut standar yang telah ditentukan adalah sebagai berikut:


a)kuat dan tahan untuk pemakaian sehari-hari.
b)Ringan sehingga memudahkan penyimpanan dan pada kondisi penerangan yang cukup, mudah di buka dan di tutup.
c)memiliki tepi atau sudut yang tidak tajam sehingga tidak melukai pasien maupun pekerja.
d)Bagian depan kaset tidak mempengaruhi kualitas radiograf yang dihasilkan.
Bagian belakang dilapisi oleh lapisan besi atau Pb. Sehingga dapat mengurangi radiasi hambur balik yang berasal dari kaset bagian belakang.

Keberadaan kaset dengan fungsi-fungsimya mau tidak mau akan memberikan kontribusi yang besar terhadap keberhasilan pemeriksaan radiodiagnostik. Oleh sebab itu kaset harus dijaga sedemikian rupa dari kerusakan-kerusakan yang mungkin terjadi. Kerusakan-kerusakan pada kaset ini sering terjadi ketika penempatan kaset yang dalam penggunaannya sering berada langsung di bawah pasien sehingga terjadi tekanan-tekanan mekanik. Dan kaset yang secara tidak sengaja terjatuh serta benturan-benturan yang terjadi padanya, juga merupakan penyebab kaset mengalami disfungsi. Disfungsi ini dapat terlihat ketika kaset tidak dapat melindungi film dari cahaya luar, sehingga akan dihasilkan fog pada hasil radiograf. Tentunya dengan temuan ini akan mengganggu radiograf yang dihasilkan.

3.Film

Film merupakan salah satu peralatan radiologi yang sangat vital dan sangat sensitif terhadap cahaya maupun sinar-x. Film ini, berdasarkan kesensitifan dan emulsinya dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu blue sensitive dan green sensitive atau sering di sebut juga dengan istilah film yang memiliki karakteristik low speed dan high speed.
Blue sensitif sering dikenal juga dengan monocromatic emultion, yaitu jenis emulsi film yang hanya peka sampai dengan panjang gelombang warna biru. Seangkan green sensitive sering disebut juga dengan policromatic emultion, yaitu jenis emulsi film yang hanya peka sampai dengan panjang gelombangnya warna hijau. Adapun bagian-bagian film radiografi akan dipaparkan sebagai berikut
3.1. Dasar film (film base)
Bahan utama film base terbuat dari poliester, dan umumnya memiliki zat warna kebiruan (blue base). Film base ini memiliki ketebelan kurang-lebih 0,18 mm.
3.2. Lapisan perekat (subtratum layer)
3.3.1 Fungsi lapisan perekat
3.3.1.1. Menempelkan lapisan emulsi film secara merata pada lapisan datar.
3.3.1.2. Mencegah rerpisahnya butiran-butiran emulsi film.
Bahan yang digunakan untuk lapisan perekat adalah larutan gelatin. Larutan gelatin adalah susunan protein yang sangat komplek yang berasal dari kollagen fibres (potongan-potongan serat) yang berasal dari kartilago, kulit dan osesin binatang memamah biak, yang selanjutnya di proses secara hidrolisis sehingga terbentuknya gelatin polymer (NH2 CH2 COOH)n. Adapun sifat-sifat gelatin yang menguntungkan anatra lain :
a.Mempunyai daya ikat yang baik terhadap butiran-butiran perak halida.
b.Pada suhu tertentu mudah bersenyawa dengan larutan lain dan jika didinginkan akan kembali mengeras.
c.Tidak memberi pengaruh terhadap perak halida, baik setelah maupun sebelum disinari.
d.Jika dimasukkan ke dalam latutan prossesing ( pembangkit ) akan mudah mengembang, sehingga gelatin ini akan memberi kesempatan kepada zat-zat lain untuk bereaksi.
3.3.Emulsi film
Emulsi film merupakan “ sensitive material ” yang digunakan untuk membentuk bayangan radiograf. Ada tiga jenis halida yang biasa seringa dipergunakan. Diantaranya yaitu :
3.3.1 Silver bromida ( AgBr )
3.3.1.1.Memiliki cut-off sensitivity mencapai 480 nm. cut-off sensitivity adalah batas panjang gelombang dari emulsi film yang menunjukkan batas akhir kesensitifannya.

Memiliki peak sensitivity mencapai 430 nm.Peak sensitivity adalah panjang gelombang dimana emulsi film menunjukkan pada tingkat yang paling sensitif.
Umumnya digunakan untuk pembuatan emulsi film radiografi maupun fotografi.
3.3.2 Perak iodida ( AgI )
Umumnya digunakan sebagai halida campuran dengan tujuan untuk meningkatkan sensitifitasnya.
3.3.3 Silver clorida ( AgC l )
3.4. Lapisan pelindung (supercoat)
Lapisan pelindung ini terbuat dari gelatin dan berfungsi sebagai antibrasi (luka atau terkelupas).

4. Larutan Developer
Larutan developer adalah larutan yang berfungsi membangkitkan bayangan laten menjadi bayangan nyata dengan cara mereduksi AgBr yang terkena sinar menjadi perak metalik. Adapun bahan pereduksinya adalah sebagai berikut :
4.1. Metol
4.2. Phenidon
4.3. Hydroquinon

5. Rinsing
Rinsing merupakan tahap prossesing yang dilakukan antara larutan pembangkit dengan fiksasi yang bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa larutan pembangkit yang terbawa oleh film. Ada pun bahannya adalah air ( bukan air mineral ).

6. Larutan Fixer
6.1. Sifat bahan yang dipakai :
6.2. Tujuan :
6.2.1. Menghentikan proses pembangkitan
6.2.2. Melarutkan AgBr yang tidak tereduksi
6.2.3. Menyamak emulsi

7. Washing
Washing merupakan tahap prossesing yang dilakukan antara fixer dengan drieng yang bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa larutan fixer dari permukaan film yang apabila dibiarkan akan merusak kualitas gambar. Washing ini bahannnya sama dengan rinshing yaitu air.

8. DrYIng
Drieng merupakan tahap terakhir dari pelaksanaan pembuatan radiograf. Dring ini berfungsi untuk mengeringkan kaset setelah tahap washing.

Digital radiografi

1. Pengertian
Digital radiografi adalah sebuah bentuk pencitraan sinar_X, dimana sensor-sensor sinar-X digital digunakan menggatikan film fotografi konvensional. Dan processing kimiawi digantikan dengan sistem komputer yang terhubung dengan monitor atau laser printer.
2. Komponen Digital Radiography
Sebuah sistem digital radiographi terdiri dari 4 komponen utama, yaitu X-ray source, detektor, Analog-Digital Converter, Computer, dan Output Device.
A. X-ray Source
Sumber yang digunakan untuk menghasilkan X-ray pada DR sama dengan sumber X-ray pada Coventional Radiography. Oleh karena itu, untuk merubah radiografi konvensional menjadi DR tidak perlu mengganti pesawat X-ray.
B. Image Receptor
Detektor berfungsi sebagai Image Receptor yang menggantikan keberadaan kaset dan film. Ada dua tipe alat penangkap gambar digital, yaitu Flat Panel Detectors (FPDs) dan High Density Line Scan Solid State Detectors.
1) Flat Panel Detectors (FPDs)
FPDs adalah jenis detektor yang dirangkai menjadi sebuah panel tipis. Berdasarkan bahannya, FPDs dibedakan menjadi dua, yaitu
a. Amorphous Silicon
Amorphous Silicon (a-Si) tergolong teknologi penangkap gambar tidak langsung karena sinar-X diubah menjadi cahaya. Dengan detektor-detektor a-Si, sebuah sintilator pada lapisan terluar detektor (yang terbuat dari Cesium Iodida atau Gadolinium Oksisulfat), mengubah sinar-X menjadi cahaya. Cahaya kemudian diteruskan melalui lapisan photoiodida a-Si dimana cahaya tersebut dikonversi menjadi sebuah sinyal keluaran digital. Sinyal digital kemudian dibaca oleh film transistor tipis (TFT’s) atau oleh Charged Couple Device (CCD’s). Data gambar dikirim ke dalam sebuah computer untuk ditampilkan. Detektor a-Si adalah tipe FPD yang paling banyak dijual di industri digital imaging saat ini.

b. Amorphous Selenium (a-Se)
Amorphous Selenium (a-Se) dikenal sebagai detektor langsung karena tidak ada konversi energi sinar-X menjadi cahaya. Lapisan terluar dari flat panel adalah elektroda bias tegangan tinggi. Elektrode bias mempercepat energi yang ditangkap dari penyinaran sinar X mealui lapisan selenium. Foton-foton sinar-X mengalir melalui lapisan selenium menciptakan pasangan lubang electron. Lubang-lubang elektron tersebut tersimpan dalam selenium berdasarkan pengisian tegangan bias. Pola (lubang-lubang) yang terbentuk pada lapisan selenium dibaca oleh rangakaian TFT atau Elektrometer Probes untuk diinterpretasikan menjadi citra.
2) High Density Line Scan Solid State device
Tipe penangkapan gambar yang kedua pada DR adalah High Density Line Scan Solid State device. Alat ini terdiri dari Photostimulable Barium Fluoro Bromide yang dipadukan dengan Europium (BaFlBr:Eu) tatu Fosfor Cesium Bromida (CsBr).
Detektor fosofor merekam energi sinar-X selama penyinaran dan dipindai (scan) oleh sebuah dioda laser linear untuk mengeluarkan energi yang tersimpan yang kemudian dibaca oleh sebuah penangkap gambar digital Charge Coupled Devices (CCD’s). Image data kemudian ditransfer oleh Radiografer untuk ditampilkan dan dikirim menuju work stasion milik radiolog.
C. Analog to Digital Converter
Komponen ini berfungsi untuk merubah data analog yang dikeluarkan detektor menjadi data digital yang dapat diinterpretasikan oleh komputer.
D. Komputer
Komponen ini berfungsi untuk mengolah data, manipulasi image, menyimpan data-data (image), dan menghubungkannya dengan output device atau work station.
E. Output Device
Sebuah sistem digital radiografi memiliki monitor untuk menampilkan gambar. Melaui monitor ini, radiografer dapat menentukan layak atau tidaknya gambar untuk diteruskan kepada work station radiolog.
Selain monitor, output device dapat berupa laser printer apabila ingin diperoleh data dalam bentuk fisik (radiograf). Media yang digunakan untuk mencetak gambar berupa film khusus (dry view) yang tidak memerlukan proses kimiawi untuk mengasilkan gambar.
Gambar yang dihasilkan dapat langsung dikirimkan dalam bentuk digital kepada radiolog di ruang baca melaui jaringan work station. Dengan cara ini, dimungkinkan pembacaan foto melaui teleradiology.

Pesawat Digital Radiography





Gambar Hasil Pencitraan dengan DR



2. Prinsip Kerja
Prinsip kerja Digital Radiography (DR) atau (DX) pada intinya menangkap sinar-X tanpa menggunakan film. Sebagai ganti film sinar X, digunakan sebuah penangkap gambar digital untuk merekam gambar sinar X dan mengubahnya menjadi file digital yang dapat ditampilkan atau dicetak untuk dibaca dan disimpan sebagai bagian rekam medis pasien.








Skema Prinsip Kerja DR


4. Kelebihan dan Kekurangan Digital Radiography
Kelebihan yang dimiliki digital radiography antara lain:
a. Cepat dan efisien karena tidak membutuhkan kamar gelap untuk pencetakan gambar.
b. Hasil lebih akurat.
c. Sistem sinar-X (pesawat) dapat tetap digunakan dengan dilakukan moifikasi.
d. Tidak membutuhkan ahli komputer karena perangkat lunak yang digunakan untuk mengatur image mudah digunakan.
e. Angka penolakan film dapat ditekan.
f. Dapat digunakan untuk radiografi mobile X-Ray unit dengan detektor digital (flat digital).

Kekurangan digital radiography antara lain :
a. Dibutuhkan dana yang besar untuk mengganti fasilitas radiografi konvensional menjadi digital.
b. Kesalahan faktor eksposi yang terlalu parah tidak dapat diperbaiki.
c. Walaupun diklaim dapat mengurangi dosis yang diterima pasien, digital radiografi justru lebih sering meningkatkan dosis pasien, karena
- Over eksposure tidak akan terdeteksi (dapat dikurangi dengan mudah dalam proses komputer). Sehingga radiografer cenderung menambah faktor eksposi.
- Pengulangan pemeriksaan (sebelum dicetak) tidak akan menambah jumlah film yang digunakan, sehingga menurunkan tingkat kehati-hatian radiografer.

Prinsip Terbentuknya Bayangan Laten

1.Pengertian
Bayangan/gambar/image dari radiograf yang belum diproses lebih lanjut setelah pemotretan, sehingga bayangan /gambar/ image tersebut tidak terlihat.

2.Processing the latent image


=Bayangan/gambar/image tidak terlihat karena hanya sedikit atom Ag yang terkumpul di daerah sensitivity speck.
=Proses kimia diperlukan agar bayangan laten menjadi bayangan/gambar yang terlihat Gambar ->manifes (manifest radiographic film)
=Proses kimia yang dimaksud dikenal sebagai istilah Processing
=Alatnya dikenal dengan nama: Film Processor
=Karena Otomatis è Automatic Processing Film (APF)

3.Bagian-bagian processing
a.Wetting (pembasahan)
Dibasahi dengan air
Direndam 15 detik
Tujuan: mengembangkan gelatin dalam emulsi
Untuk mesin APF, wetting sekaligus dilakukan di proses development

b.Development (pengembangan)

Development adalah proses kimia yang memperkuat gambar laten.
Hanya kristal yang mengandung bayangan laten (kristal yang terekspose)
Yang akan dikembangkan (develop) oleh developer.

Komponen utama developer



Overdevelop==> development fog

c. Stop Bath
=Penghentian proses development agar tidak terjadi development fog.
=Development fog terjadi karena proses kimia yang berlebihan sehingga, kristal AgBr yang tidak terekspose radiasi ikut terproses menjadi hitam.
=Mengakibatkan kualitas film radiograf menjadi jelek, disebut terlalu ”keras”/”matang”

d. Fixing
=Setelah film dikembangkan (develop), maka hasilnya perlu dimantapkan dengan fixing.
=Gambar difix-kan, dimantapkan menjadi gambar permanen.
=Fixer yang bagus membuat kualitas gambar yang sudah dikembangkan menjadi baik (archival quality)
Ada 5 komponen dalam fixer:
1) Pengaktif (Activator)
2) Clearing agent (agen penjernih)
3) Pengeras (Hardener)
4) Penjaga/pemelihara (preservative)
5) Pelarut (solvent)


e. Washing (pencucian)
 Bahan utama air
 Tujuan: untuk menghilangkan sisa emulsi & sisa-sisa kimia akibat proses developing & fixing
 Suhu air dijaga di bawah suhu developing, sekitar 28°C
 Pembersihan dijaga waktunya.
 Terlalu bersih tidak baik, karena masih membutuhkan bahan kimia di radiograf
 Kurang/tidak “bersih” juga tidak baik, karena sisa kimia yang terlalu banyak, akan mengakibatkan reaksi lebih lanjut.
f. Dying (Pengeringan)
=Proses terakhir adalah pengeringan
=Mengeringkan dari air
=Radiograf yang lembab, tidak baik, karena dapat merusak gambar film, bahkan mungkin berjamur
=Cara penyimpanan radiograf yg baik adalah ditempat yang kering, suhu kamar (sejuk), tidak lembab.
=Proses manual > 1 jam
=Proses automatis ~ 90 detik

4. Penampang film radiograf
Terdiri dari base (dasar film), dan Super coating emulsion adhesive (pelapis super, dari bahan mudah larut, yang melekat dengan kuat)

EMULSI



•Emulsion (emulsi) terdiri atas campuran gelatin dan kristal perak bromida (AgBr) atau perak Iodida (AgI)
•Gelatin: jernih, tembus cahaya, melindungi kristal AgBr / AgI dari kerusakan kristal (goresan, proses kimia)

5.Proses Pembentukan gambar Laten



Keterangan :
A.Energi sinar X diserap total oleh kristal Perak Bromida (AgBr), di dalam atom Br terjadi interaksi antara sinar x dengan elektron => efek fotolistrik.

B.Atom Perak (Ag) dan Atom Bromida (Br) akan berikatan secara ionik menbentuk molekul/kristal Perak Bromida (AgBr)
AgBr à Ag + + Br – AgI à Ag + + I –
Br – + Photon (X) à Br + e –
I –+ Photon (X) à I + e –
e – bermigrasi ke daerah sensitivity speck
Terjadilah kumpulan elektron-2

C.Elektron-elektron berkumpul di daerah sensitivity speck, menyebabkan ion perak positif bermigrasi ke sensitivity speck dan bergabung dengan elektron èHukum Coulomb
Ag + + e – è Ag (netral)
Karena ikatan ionik antara Ag dan Br / I sudah terpisah, maka atom Br dan atom I akan terlepas dari kristal AgBr / AgI, dan bermigrasi ke daerah emulsion.

D.Atom Ag yg bermigrasi ke daerah sensitivity speck dan telah bergabung dengan elektron.
Hal tersebut terjadi pada jutaan atom.
Sekumpulan Atom Ag disebut pusat bayangan laten (Latent image center)
E.DaN Atom Ag yang terekspose/terpapar radiasi akan berwarna hitam.

Sabtu, 20 November 2010

Computer Radiografi (CR)


Computer Radiografi (CR) merupakan suatu sistem atau proses untuk mengubah sistem analog pada konvensional radiografi menjadi digital radiografi. Computer Radiografi (CR) mempunyai perlengkapan operasional yang terdiri dari :

a). Imaging Plate

Imaging plate merupakan media pencatat sinar-X pada Computer Radiografi yang terbuat dari bahan photostimulable phosphor tinggi. Dengan menggunakan Imaging plate memungkinkan processor gambar untuk memodifikasi kontras.

Imaging plate berada dalam kaset Imaging. Fungsi dari Imaging plate adalah sebagai penangkap gambar dari objek yang sudah di sinar (ekspose). Prosesnya adalah pada saat terjadinya penyinaran, Imaging plate akan menangkap energi dan disimpan oleh bahan phosphor yang akan dirubah menjadi Electronic Signal dengan laser scenner dalam image reader.

b). Image reader

Image reader berfungsi sebagai pembaca dan mengolah gambar yang diperoleh dari Image plate. Semakin besar kapasitas memorinya maka semakin cepat waktu yang diperlukan untuk proses pembacaan Image plate, dan mempunyai daya simpan yang besar. Waktu tercepat yang diperlukan untuk membaca imaging plate pada image reader yaitu selama 64 detik.

Selain tempat dalam proses pembacaan, Image reader mempunyai peranan yang sangat penting juga dalam proses pengolahan gambar, sistem transportasi Image plate serta penghapusan data yang ada di Image plate. Image reader sudah dilengkapi dengan monitor yang berfungsi untuk menampilkan gambar yang sudah di baca oleh Image reader disebut dengan image console.

Image console berfungsi sebagai media pengolahan data, berupa computer khusus untuk medical imaging dengan touch screen monitor. Image console dilengkapi oleh bebagai macam menu yang menunjang dalam proses editing dan pengolahan gambar sesuai dengan anatomi tubuh, seperti kondisi hasil gambaran organ tubuh, kondisi tulang dan kondisi soft tissue.

Terdapat menu yang sangat diperlukan dalam teknik radiofotografi yaitu kita bisa mempertinggi atau mengurangi densitas, ketajaman, kontras dan detail dari suatu gambaran radiografi yang diperoleh.

d). Image recorder

Image recorder mempunyai fungsi sebagai proses akhir dari suatu pemeriksaan yaitu media pencetakan hasil gambaran yang sudah diproses dari awal penangkapan sinar-X oleh image plate kemudian di baca oleh image reader dan diolah oleh image console terus dikirim ke image recorder untuk dilakukan proses output dapat berupa media compact disc sebagai media penyimpanan.atau dengan printer laser yang berupa laser imaging film.

e). Personal Computer (PC)

Komputer berasal dari bahasa latin yaitu computare yang berarti menghitung. Komputer adalah sistem elektronik yang dapat menerima input data, dapat mengolah data, dapat menerima informasi, menggunakan suatu prograng yang tersimpan didalam memori komputer, dapat menyimpan program dan hasil pengolahan dan bekerja secara otomatis dibawah pengawasan suatu langkah-langkah instruksi-instruksi program yang tersimpan di memori. (Yulikuspartono. 1997)

Pada zaman sekarang ini, komputer tidak lagi seperti barang mewah melainkan barang kebutuhan yang harus dimiliki. Banyak sekali yang dapat dilakukan dengan menggunakan komputer, dari mulai menghitung, membuat tulisan, sampai membuat film dan memanipulasi suatu gambar.


sumber www.portalradiografi.web.id/