Jumat, 17 Desember 2010

TRANSFER FILM BOX

Transfer Film Box merupakan sebuah alat yang fungsinya hampir sama dengan kamar gelap, perbedaannya terletak pada kegunaannya yang sebatas hanya sebagai tempat untuk proses loading dan unloading kaset, di dalamnya terdapat 2 buah box/kotak yang fungsinya sebagai tempat film yang telah di ekspose dan unexpose. Transfer film box biasanya digunakan apabila dilakukan medical check up dilapangan. Cara kerja atau cara penggunaan dari transfer film box ini yaitu :

1.Kaset + Film yang telah di ekspose dimasukkan ke dalam transfer film box melalui lubang yang telah disediakan di bagian depan.

2.Setelah kaset + film dimasukkan ke dalam transfer film box, kemudian operator memasukkan ke dua tangannya ke dalam transfer film box melalui lubang yang telah disediakan pada bagian belakang.

3.Kemudian dilakukan proses unloading kaset dengan cara membuka kaset yang telah berada di dalam transfer film box dan film yang ada di dalam kaset tersebut diambil untuk kemudian dimasukkan ke dalam box/kotak film (box expose film) yang telah disediakan di dalam transfer film box.

4.Setelah itu dilakukan proses loading kaset atau memasukkan film yang belum di ekspose ke dalam kaset. Film yang belum di ekspose telah tersedia di dalam box/kotak film yang berada di dalam transfer film box.

5.Kemudian kaset yang telah di isi kembali dengan film unexpose dikeluarkan melalui lubang depan dan dapat dipergunakan untuk melakukan pemeriksaan rontgen.

6.Apabila box/kotak tempat menyimpan film yang telah di ekspose penuh, maka transfer film box dapat dibuka, kemudian film-film yang telah di ekspose di ambil untuk kemudian di cuci di kamar gelap yang sesungguhnya.

Kamis, 16 Desember 2010

CT SCAN

Sekilas Mengenai Dasar-Dasar CT-Scan
A. Dasar-Dasar CT-Scan
CT-Scan adalah suatu pencitraan radiodiagnostik yang dapat menghasilkan gambar dan irisan atau bidang tertentu tubuh pasien dan memberi informasi diolah komputer sintesa dari sinar –x dengan data yang ditampilkan pada video display. CT-Scan diperkenalkan pertama kali pada kongres tahunan di British Institute Radiology bulan April 1972, oleh seorang ilmuwan senior bernama G.N Hounsfield yang bekerja untuk EMI Limited di Middilesex Inggris. CT Scan merupakan perpaduan antara teknologi sinar-x, komputer dan televisi sehingga mampu menampilkan gambar anatomi tubuh bagian dalam manusia dalam bentuk irisan atau slice ( Rasad : 1992)
B. Perkembangan CT-Scan
1. CT-Scan generasi pertama
Prinsip kerja Scanner CT-Scan generasi pertama ialah menggunakan pancaran berkas sinar –x berbentuk pensil yang diterima oleh salah satu atau dua detektor. Waktu yang dibutuhkan untuk 1 slice dengan rotasi tabung sinar-x dan detektor sebesar 180° adalah seki
tar 4,5 menit.
2. CT-Scan generasi kedua
Pada generasi ini prinsip dasar scanner mengalami perbaikan yang cukup besar dibandingkan dengan generasi pertama. Pancaran berkas sinar – x yang dihasilkan ialah model kipas angin dengan jumlah detektor 30 buah serta waktu scanning sangat pendek. Waktu scanning hanya 15 detik untuk 1 slice atau 10 menit untuk 40 slice.
3. CT-Scan generasi ketiga
CT-Scan generasi ini telah menggunakan detektor sejumlah 960 buah dengan rotasi tabung dan detektor sejauh 360° secara sempurna dalam menghasilkan 1 slice data jaringan selama 1detik.
4. CT-Scan generasi ke empat
CT-Scan generasi keempat disebut dengan CT helical atau CT Spiral. Kelebihannya penggambaran organ akan lebih cepat dan dapat diolah menajdi gambar tiga dimensi melalui pengolahan komputer. Generasi ini menggunakan teknologi fixed-ring yang mempunyai 4800 detektor. Saat pemeriksaan tabung sinar-x berputar 360° mengelilingi detektor yang diam dengan waktu scanning sama dengan CT Scan generasi ketiga. (Bontrager:2000)
C. Komponen Dasar CT-Scan (Tortorici:1995)
Komponen Utama CT-Scan yaitu :
1. Sistem penggambaran
Yakni terdiri atas gantry (rumah tabung) yang meliputi tabung sinar-x detektor. Gantry memiliki bentuk lingkaran yaitu segi empat dimana ditengahnya terdapat lubang yang berfungsi untuk scanning pasien. Tabung sinar-x merupakan komponen penting dalam CT-Scan hampir mirip dengan tabung sinar-x konvensional. CT-Scan memiliki 2 kolimator yaitu kolimator pre pasien dan kolimator pre detektor. Kolimator pre pasien berada didalam gantry dan merupakan pembatas sinar menuju pasien yang berfungsi sebagai pembatas dosis pasien. Kolimasi pre detektor berlokasi didepan detektor untuk menjaga kualitas gambar dengan menurunkan radiasi hambur. Pada saat eksposi berkas sinar–x (foton) yang menembus pasien mengalami perlemahan (atenuasi) kemudian di tangkap oleh detektor. Kemampuan penyerapan detektor yang tinggi akan menghasilkan kualitas gambar yang dihasilkan menjadi lebih baik.
2. Meja Pemeriksaan (Couch)
Meja pemeriksaan merupakan tempat untuk memposisikan pasien. Meja ini biasanya terbuat dari fiber karbon. Dengan adanya bahan ini maka sinar–x yang menembus pasien tidak terhalang jalannya untuk menuju detektor. Meja ini harus kuat dan kokoh mengingat fungsinya menopang tubuh pasien selama meja bergerak ke dalam gantry.
3. Sistem Konsul
Konsul bersedia dalam berbagai variasi. CT-Scan generasi awal masih menggunakan dua sistem konsul yaitu untuk pengoperasian CT-Scan sendiri dan untuk perekaman dan pencetakan gambar. Model yang terbaru sudah memakai sistem konsul dimana memiliki banyak kelebihan dan fungsi. Bagian dari sistem konsul yaitu :
a. Sistem Kontrol
Pada bagian ini petugas dapat mengontrol parameter-parameter yang berhubungan dengan beroperasinya CT-Scan seperti pengaturan KV, MA dan waktu scanning, ketebalan irisan dan lain-lain. Juga dilengkapi keyboard untuk memasukkan data pasien dan pengontrolan fungsi tertentu dalam komputer.
b. Sistem pencetakan
Setelah gambar CT-Scan diperoleh kemudian dipindahkan dalam bentuk film. Pemindahan ini dengan menggunakan kamera multiformat. Kamera merekam gambar dari monitor dan memindahkannya kedalam lembaran film. Tampilan gambaran di film dapat mencapai 2-24 gambar tergantung ukuran film (8 x 10 inci atau 14 x 17 inci).
c. Sistem perekaman gambar
Merupakan bagian penting lain dari CT-Scan. Data yang telah ada disimpan dan dapat ditampilkan lagi dengan cepat. Biasanya sistem perekaman ini berupa disket optic dengan kemampuan penyimpanan data sekitar 200 gambar.




D. Parameter CT-Scan
1. Scanogram
Merupakan langkah awal dalam scanning untuk menentukkan posisi pada slice. Pada operator console, pengaturan scanogram dengan pilihan top view (scanogram dengan posisi AP atau PA) dan slide view (scanogram dari posisi lateral) dalam scanoscope.

2. Range
Range adalah kombinasi dari beberapa silce thickness untuk mendapatkan ketebalan irisan yang sama pada satu lapangan pemeriksaan. Lapangan pemeriksaan untuk CT-Scan lumbal adalah dari Lumbal 1 sampai dengan Sacrum I.

3. Slice thickness
Adalah tebalnya irisan obyek yang biasanya digunakan adalah slice thickness 10 mm. Ada daerah yang strukturnya kecil dapat digunakan slice thickness 5 mm, 2 mm, atau 1mm.

4. Waktu Scan Waktu scan yang terbaik adalah waktu scan yang cepat dan utamanya bermanfaat pada scan pediatrik atau pada pasien yang tidak dapat tahan napas.

5. Pengaturan MA Pengaturan MA akan menhasilkan perubahan ukuran fokus dan kuantitas sinar –x yang dihasilkan. Pilihan penggunaan MA disesuaikan dengan ukuran pasien, posisi scan thickness.

6. Field of View (Fov) Field of view adalah diameter maksimal dari gambar yang akan direkontruksi. Banyak bervariasi antara rentang 12+50 cm. FOV yang kecil akan meningkatkan resolusi gambaran karena FOV yang kecil dapat mereproduksi ukuran pixcel (picture element).

7. Gantry Tilt Gantry tilt adalah sudut yang dibentuk antara bidang vertikal dengan gantry (tabung sinar-x dan detektor). Rentang penyudutan antara -20° sampai +20°. Tujuan penyudutan adalah untuk keperluan diagnosa dan untuk mereduksi dosis radiasi terhadap organ-organ yang sensitiif seperti mata.

8. Rekonstruksi Algoritma Rekontruksi algoritma adalah prosedur matematis (algoritma) yang digunakan untuk merekontruksi gambar. Hasil dan karakteristik gambar CT-Scan tergantung kuat lemahnya algoritma yang dipilih. Semakin tinggi rekontruksi algoritma akan menghasilkan resolusi gambar.

9. Window Level Window level adalah nilai tengah dari window yang digunakan untuk menampakkan gambar. Nilai dapat memilih dan tergantung pada karakteristik dari struktur obyek yang diperiksa. Window level menentukan densitas gambar.

10. Window Width Window width adalah rentang nilai computed yang di konversi menjadi gray scale untuk ditampilkan dalam monitor. Setelah komputer menyelesaikan pngolahan gambar melalui rekontruksi matriks dan algoritma hasilnya akan dikonversi menjadi skala numerik yang dikenal dengan nama Computed Tomography.

Berikut Tabel CT Number dengan satuan HU dalam menampakkan jaringan (Bontrager:2001).



SUMBER http://catatanradiograf.blogspot.com

MAKRORADIOGRAFI

Makroradiografi ialah teknik radiografi yang digunakan untuk memperoleh gambaran yang diperbesar dari gambaran awalnya (gambaran yang sebenarnya).
Tujuan dari pembuatan gambar makroradiografi ialah untuk memperoleh informasi yang lebih jelas, yang tidak diperoleh dari hasil radiograf biasa diakibatkan oleh ukuran dari bagian – bagian tersebut yang teramat kecil misalnya tulang yang berukuran kecil, saluran- saluran, dsb.
PRINSIP PEMERIKSAAN
Teknik makroradiografi menggunakan prinsip magnifikasi atau pembesaran ukuran objek dari ukuran sebenarnya dengan cara meletakkan objek pada jarak tertentu dari film.
Adapun prinsip pemeriksaan teknik makroradiografi antara lain :

* Tanpa grid karena adanya air gap yang diakibatkan oleh OFD (objek film distance) yang lebih besar
* Gambaran yang dihasilkan akan lebih besar dari gambaran yang sebenarnya bergantung pada pembesaran yang diinginkan
* Pemilihan focus kecil guna mengurangi ketidaktajaman gambar
* Faktor eksposi lebih besar dikarenakan adanya pengaruh dari FFD dan Air Gap

Teknik makroradiografi dapat dilakukan dalam dua cara yaitu:

1. Mengubah FFD (focus - film distance) tanpa mengubah OFD (objek - film distance)
2. Mengubah FOD (focus - objek distance)tanpa mengubah FFD (focus - film distance)

PENGUKURAN
Pembesaran objek yang dihasilkan dapat diukur menggunakan rumus :



FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH
1. Faktor Pembesaran

* Jarak OFD = FOD maka objek terletak diantara 2 focus
* Pembesaran bertambah bila OFD ditambah atau diperbesar
* Pemilihan ukuran focus berkaitan dengan adanya Ug (Unsharpness Geometric). Ukuran focus yang semakin kecil akan memperkecil ketidaktajaman geometri.

2. Faktor Ketidaktajaman Geometri

* Unsharpness Geometric berbanding lurus dengan ukuran focus yang digunakan
* UG berbanding terbalik dengan FOD dan
* UG berbanding lurus dengan OFD

3.Faktor Ketidaktajaman karena Gerakan

* Gunakan peralatan fiksasi untuk mengurangi gerakan pasien
* Pergerakan pasien dapat menimbulkan Movement Unsharpness

4. Faktor Eksposi

* Pemilihan Faktor Eksposi dipengaruhi oleh adanya Air gap antara objek dan film.
* Semakin besar Air Gap maka Faktor eksposi yg digunakan akan makin besar.

5. Faktor Posisi

* Tabung sinar – X harus diatur tegak lurus terhadap film dan objek
* Bidang objek dan film diatur sejajar
* Adanya kemiringan dari objek dapat mengakibatkan terjadinya distorsi gambar

CONTOH TERAPAN

* FOD Tetap dan FFD yang Berubah

Diketahui : MF = 1,5 dan OFD1 = 0 cm, dan OFD2 = 40 cm maka :

Perubahan FFD, diikuti perubahan Faktor Eksposi

Rabu, 15 Desember 2010

MAMOGRAFI

MAMOGRAFI

Adalah pemeriksaan payudara secara radiology u/ mendeteksi dini kanker payudara.

Tanda2 kanker payudara
1. adanya perubahan kulit payudara ( seperti kulit jeruk )
2. teraba ada benjolan di payudara
3. keluaran cairan / darah
4. ada rasa tidak enak di sekitar payudara
5. rasa kemeng di daerah aksila

mammografi lebih baik di lakukan pada saat subur yaitu 1 minggu setelah haid dan tidak boleh saat haid / menjelang haid karena ada perubahan hormonal.

Kontra indikasi
1. saat menstruasi
2. saat menyusui
3. pada wanita yang memakai silikon karena pada silikonnomor atomnya sangat tinggi, dan nomor atom yang tinggi mengakibatkan gambaran opaq sehingga tidak menampakan parenkim / serabut2 pada payudara.

Kv maksimal pada pesawat mammae adl 35 kv karena objek yang dfoto adl soft tissue, sedangkan mAs yang digunakan sangat tinggi y/ 500 mAs.

Mastektomi adalah pengambilan seluruh bagian payudara
Pada proyeksi obliq axila harus tampak karena pada axila terdapat kelenjar pectolaris.





Proyeksi pada mammografi :
1. cranio caudal
2. mediolateral 90o / lateral
3. lateromadial
4. obliq
5. kleopatra

MEDIOLATERAL
1. posisi hadap kanan ( duduk / berdiri )
putar tabung 90 o
mammae pada pertengahan film
pasien maju sedikit & tangan pegangan pada pegangan kaset
bahu rileks
batas lateral pada rusuk
angkat mammae pada bentuk normal lalu di kompresi

2. recumben
tidur miring
lengan yang diamati diangkat
kaset diletkan didepan axila
mammae yang lain tarik ke posterior
kolimasi pada mammae saja

craniocaudal ( duduk / berdiri )
1. tempatkan mammae pada film
2. batas tepi film berad dalm dinding dada di bawah payudara
3. suruh pasien untuk menekan dada ke film shg mammae infor berada pada film
4. bahu rileks
5. kepala menjauh
6. kolimasi sesuai
7. informasikan tentang tindakan kompresi
8. cek kembali mammae sebelum kompresi
9. kompresi scra perlahan – lahan
10. setelah kompresi pasien suruh tahan nafas dan eksposi



mammografi terutama di gunakan untuk :
1. wanita yang berumur lebih dari 35 th
2. wanita yang tidak menikah
3. wanita yang tidak punya anak
4. wanita yang melahirkan anak pertamanya, umurnya lebih dari 30th
5. wanita pada masa menopouse
6. wanita yang punya silsilah keluarga terkena kanker

variasi pada jaringan mammae:
1. wanita post pubertal = berisi jaringan konektif, berdensitas tinggi, radiografinya homogen dengan sedikit perbedaan jaringan
2. wanita hamil = sampai akhir menyusui, hipertrophi yang signifikan pada kelenjar duck nya, mammae sangat dense & opaq ( tidak kontras )
3. wanita yg tdk menyusui lagi = terjadi involsi besar pada kelenjar dan parenkimnya sehingga terjadi penimbunan lemak dan kontras tinggi
4. wanita menopouse = kelenjar mammae mengalami ” ATROPI GRADUAL ”
5. terjadi akumulasi lemak & kelenjar yang berbeda pada setiap orang.

Standart alat mammografi

1. kaset ber IS tunggal dengan kualitas tinggi
2. film beremulsi tunggal mengurangi pa2ran radiasi, image lebih baik
3. kompresi mammae
4. teknik KV rendah ( 28 – 36 ) dengan transformer khusus
5. tabung X – ray dangan Target Molibdenum ( produksi energi rendah )
6. ada filter tambahan 0.03 mm = 0.5 mm Al
7. fokus kecil
8. kolimasi berkas
9. pasewat lengkap dengan variasi posisi pasien

kaset radiologi dan kamar gelap

1.Kamar Gelap

Pemeriksaan radiograf merupakan salah satu upaya kegiatan medis dalam menegakkan diagnosa. Keberhasilan menghasilkan radiograf yang berkualitas dan memiliki standar estetika radiografi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Salah satunya adalah aktivitas di kamar gelap (dark room) selama melakukan kegiatan prossesing film radiografi.
Kegiatan prossesing radiografi dilaksanakan di kamar gelap diawali dari daerah kering dengan memasukkan film radiografi yang belum di ekspos (unekspose) ke dalam kaset yang selanjutnya dilakukan eksposi terhadap film tersebut. Kegiatan selanjutnya adalah unloading yaitu mengeluarkan film radiografi dari dalam kaset untuk dilakukan prossesing film radiografi. Sedangkan kegiatan yang dilakukan di daerah basah adalah aktivitas memproses film secara kimiawi.
Karena, begitu pentingnya kamar gelap, maka hal-hal di bawah ini merupakan sekelumit tentang kamar gelap yang harus diperhatikan. Diantaranya adalah :
1. Fungsi Kamar Gelap
Tempat untuk mengisi dan mengeluarkan film dari kaset
Tempat untuk memasukkan film pada automatik prosessor
Tempat pemeliharaan kaset, intensyfing screen, dan automatic processor.
Tempat penyimpanan unekspose film.
Tempat membuat duplikasi dan subtraksi film.
Tempat melakukan silver recovery.

2 Lokasi Kamar Gelap
2.1. Ditempatkan pada tempat yang strategis., sehingga mudah di capai dari tempat-tempat pemotretan.
2.2. Berdekatan dengan kamar sortir film
2.3. Dekat dengan ruang arsip
2.4. Dianjurkan untuk dua kamar pemotretan tersedia satu kamar gelap.

3. Konstruksi Kamar Gelap
3.1. Ukuran :
Luas 3 X 3 m persegi dengan tinggi 2,75 m
3.2. Lantai
Bahan tidak mudah kropos.
Tahan terhadap cairan pencuci film.
Tidak licin, jika lantai basah.
3.3. Dinding.
Warna terang
Memantulkan cahaya
Mudah dibersihkan
3.4. Langit-langit.
Di cat dengan warna yang tidak mengelupas


1.4. Proteksi Radiasi Kamar Gelap
Ketebalan dinding di buat equivalen 2 mm Pb
Tembok biasa dengan ketebalan 20 – 25 cm
Dinding beton cor setebal 15 cm
Tembok biasa dapat dilapisi dengan plat Pb 2 mm



2.Kaset
Untuk melindungi film x-ray yang telah maupun belum di ekspose diperlukan suatu alat yang disebut kaset. Kaset, dalam panggunaannya selalu bersama dengan intensyfing screen yang terletak di depan dan dibelakang film. Kaset memili berbagai fungsi, diantaranya adalah: melindungi intensyfing screen dari kerusakan akibat tekanan mekanik, menjaga intensyfing screen dari kotoran dan debu. Selain itu kaset juga berfungsi menjaga agar film dapat dengan rapat menempel pada kedua intensyfing screen yang terletak di depan dan belakang kaset tersebut secara sempurna serta membatasi radiasi hambur balik dari belakang kaset.
kaset memilki berbagai macam ukuran. Diantaranya adalah berukuran : (18 X 24) cm, (24 X 30) cm, (30 X 40) cm, (35 X 35) cm dan (35 X 43) cm. Penggunaan berbagai macam kaset ini ditentukan oleh objek yang akan di periksa.sebagai contoh adalah pemeriksaan pada manus. Karena objeknya kecil maka untuk effisiensinya menggunakan kaset yang berukuran (18 X 24) cm. adapun ciri-ciri konstruksi kaset yang ideal menurut standar yang telah ditentukan adalah sebagai berikut:


a)kuat dan tahan untuk pemakaian sehari-hari.
b)Ringan sehingga memudahkan penyimpanan dan pada kondisi penerangan yang cukup, mudah di buka dan di tutup.
c)memiliki tepi atau sudut yang tidak tajam sehingga tidak melukai pasien maupun pekerja.
d)Bagian depan kaset tidak mempengaruhi kualitas radiograf yang dihasilkan.
Bagian belakang dilapisi oleh lapisan besi atau Pb. Sehingga dapat mengurangi radiasi hambur balik yang berasal dari kaset bagian belakang.

Keberadaan kaset dengan fungsi-fungsimya mau tidak mau akan memberikan kontribusi yang besar terhadap keberhasilan pemeriksaan radiodiagnostik. Oleh sebab itu kaset harus dijaga sedemikian rupa dari kerusakan-kerusakan yang mungkin terjadi. Kerusakan-kerusakan pada kaset ini sering terjadi ketika penempatan kaset yang dalam penggunaannya sering berada langsung di bawah pasien sehingga terjadi tekanan-tekanan mekanik. Dan kaset yang secara tidak sengaja terjatuh serta benturan-benturan yang terjadi padanya, juga merupakan penyebab kaset mengalami disfungsi. Disfungsi ini dapat terlihat ketika kaset tidak dapat melindungi film dari cahaya luar, sehingga akan dihasilkan fog pada hasil radiograf. Tentunya dengan temuan ini akan mengganggu radiograf yang dihasilkan.

3.Film

Film merupakan salah satu peralatan radiologi yang sangat vital dan sangat sensitif terhadap cahaya maupun sinar-x. Film ini, berdasarkan kesensitifan dan emulsinya dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu blue sensitive dan green sensitive atau sering di sebut juga dengan istilah film yang memiliki karakteristik low speed dan high speed.
Blue sensitif sering dikenal juga dengan monocromatic emultion, yaitu jenis emulsi film yang hanya peka sampai dengan panjang gelombang warna biru. Seangkan green sensitive sering disebut juga dengan policromatic emultion, yaitu jenis emulsi film yang hanya peka sampai dengan panjang gelombangnya warna hijau. Adapun bagian-bagian film radiografi akan dipaparkan sebagai berikut
3.1. Dasar film (film base)
Bahan utama film base terbuat dari poliester, dan umumnya memiliki zat warna kebiruan (blue base). Film base ini memiliki ketebelan kurang-lebih 0,18 mm.
3.2. Lapisan perekat (subtratum layer)
3.3.1 Fungsi lapisan perekat
3.3.1.1. Menempelkan lapisan emulsi film secara merata pada lapisan datar.
3.3.1.2. Mencegah rerpisahnya butiran-butiran emulsi film.
Bahan yang digunakan untuk lapisan perekat adalah larutan gelatin. Larutan gelatin adalah susunan protein yang sangat komplek yang berasal dari kollagen fibres (potongan-potongan serat) yang berasal dari kartilago, kulit dan osesin binatang memamah biak, yang selanjutnya di proses secara hidrolisis sehingga terbentuknya gelatin polymer (NH2 CH2 COOH)n. Adapun sifat-sifat gelatin yang menguntungkan anatra lain :
a.Mempunyai daya ikat yang baik terhadap butiran-butiran perak halida.
b.Pada suhu tertentu mudah bersenyawa dengan larutan lain dan jika didinginkan akan kembali mengeras.
c.Tidak memberi pengaruh terhadap perak halida, baik setelah maupun sebelum disinari.
d.Jika dimasukkan ke dalam latutan prossesing ( pembangkit ) akan mudah mengembang, sehingga gelatin ini akan memberi kesempatan kepada zat-zat lain untuk bereaksi.
3.3.Emulsi film
Emulsi film merupakan “ sensitive material ” yang digunakan untuk membentuk bayangan radiograf. Ada tiga jenis halida yang biasa seringa dipergunakan. Diantaranya yaitu :
3.3.1 Silver bromida ( AgBr )
3.3.1.1.Memiliki cut-off sensitivity mencapai 480 nm. cut-off sensitivity adalah batas panjang gelombang dari emulsi film yang menunjukkan batas akhir kesensitifannya.

Memiliki peak sensitivity mencapai 430 nm.Peak sensitivity adalah panjang gelombang dimana emulsi film menunjukkan pada tingkat yang paling sensitif.
Umumnya digunakan untuk pembuatan emulsi film radiografi maupun fotografi.
3.3.2 Perak iodida ( AgI )
Umumnya digunakan sebagai halida campuran dengan tujuan untuk meningkatkan sensitifitasnya.
3.3.3 Silver clorida ( AgC l )
3.4. Lapisan pelindung (supercoat)
Lapisan pelindung ini terbuat dari gelatin dan berfungsi sebagai antibrasi (luka atau terkelupas).

4. Larutan Developer
Larutan developer adalah larutan yang berfungsi membangkitkan bayangan laten menjadi bayangan nyata dengan cara mereduksi AgBr yang terkena sinar menjadi perak metalik. Adapun bahan pereduksinya adalah sebagai berikut :
4.1. Metol
4.2. Phenidon
4.3. Hydroquinon

5. Rinsing
Rinsing merupakan tahap prossesing yang dilakukan antara larutan pembangkit dengan fiksasi yang bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa larutan pembangkit yang terbawa oleh film. Ada pun bahannya adalah air ( bukan air mineral ).

6. Larutan Fixer
6.1. Sifat bahan yang dipakai :
6.2. Tujuan :
6.2.1. Menghentikan proses pembangkitan
6.2.2. Melarutkan AgBr yang tidak tereduksi
6.2.3. Menyamak emulsi

7. Washing
Washing merupakan tahap prossesing yang dilakukan antara fixer dengan drieng yang bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa larutan fixer dari permukaan film yang apabila dibiarkan akan merusak kualitas gambar. Washing ini bahannnya sama dengan rinshing yaitu air.

8. DrYIng
Drieng merupakan tahap terakhir dari pelaksanaan pembuatan radiograf. Dring ini berfungsi untuk mengeringkan kaset setelah tahap washing.

Digital radiografi

1. Pengertian
Digital radiografi adalah sebuah bentuk pencitraan sinar_X, dimana sensor-sensor sinar-X digital digunakan menggatikan film fotografi konvensional. Dan processing kimiawi digantikan dengan sistem komputer yang terhubung dengan monitor atau laser printer.
2. Komponen Digital Radiography
Sebuah sistem digital radiographi terdiri dari 4 komponen utama, yaitu X-ray source, detektor, Analog-Digital Converter, Computer, dan Output Device.
A. X-ray Source
Sumber yang digunakan untuk menghasilkan X-ray pada DR sama dengan sumber X-ray pada Coventional Radiography. Oleh karena itu, untuk merubah radiografi konvensional menjadi DR tidak perlu mengganti pesawat X-ray.
B. Image Receptor
Detektor berfungsi sebagai Image Receptor yang menggantikan keberadaan kaset dan film. Ada dua tipe alat penangkap gambar digital, yaitu Flat Panel Detectors (FPDs) dan High Density Line Scan Solid State Detectors.
1) Flat Panel Detectors (FPDs)
FPDs adalah jenis detektor yang dirangkai menjadi sebuah panel tipis. Berdasarkan bahannya, FPDs dibedakan menjadi dua, yaitu
a. Amorphous Silicon
Amorphous Silicon (a-Si) tergolong teknologi penangkap gambar tidak langsung karena sinar-X diubah menjadi cahaya. Dengan detektor-detektor a-Si, sebuah sintilator pada lapisan terluar detektor (yang terbuat dari Cesium Iodida atau Gadolinium Oksisulfat), mengubah sinar-X menjadi cahaya. Cahaya kemudian diteruskan melalui lapisan photoiodida a-Si dimana cahaya tersebut dikonversi menjadi sebuah sinyal keluaran digital. Sinyal digital kemudian dibaca oleh film transistor tipis (TFT’s) atau oleh Charged Couple Device (CCD’s). Data gambar dikirim ke dalam sebuah computer untuk ditampilkan. Detektor a-Si adalah tipe FPD yang paling banyak dijual di industri digital imaging saat ini.

b. Amorphous Selenium (a-Se)
Amorphous Selenium (a-Se) dikenal sebagai detektor langsung karena tidak ada konversi energi sinar-X menjadi cahaya. Lapisan terluar dari flat panel adalah elektroda bias tegangan tinggi. Elektrode bias mempercepat energi yang ditangkap dari penyinaran sinar X mealui lapisan selenium. Foton-foton sinar-X mengalir melalui lapisan selenium menciptakan pasangan lubang electron. Lubang-lubang elektron tersebut tersimpan dalam selenium berdasarkan pengisian tegangan bias. Pola (lubang-lubang) yang terbentuk pada lapisan selenium dibaca oleh rangakaian TFT atau Elektrometer Probes untuk diinterpretasikan menjadi citra.
2) High Density Line Scan Solid State device
Tipe penangkapan gambar yang kedua pada DR adalah High Density Line Scan Solid State device. Alat ini terdiri dari Photostimulable Barium Fluoro Bromide yang dipadukan dengan Europium (BaFlBr:Eu) tatu Fosfor Cesium Bromida (CsBr).
Detektor fosofor merekam energi sinar-X selama penyinaran dan dipindai (scan) oleh sebuah dioda laser linear untuk mengeluarkan energi yang tersimpan yang kemudian dibaca oleh sebuah penangkap gambar digital Charge Coupled Devices (CCD’s). Image data kemudian ditransfer oleh Radiografer untuk ditampilkan dan dikirim menuju work stasion milik radiolog.
C. Analog to Digital Converter
Komponen ini berfungsi untuk merubah data analog yang dikeluarkan detektor menjadi data digital yang dapat diinterpretasikan oleh komputer.
D. Komputer
Komponen ini berfungsi untuk mengolah data, manipulasi image, menyimpan data-data (image), dan menghubungkannya dengan output device atau work station.
E. Output Device
Sebuah sistem digital radiografi memiliki monitor untuk menampilkan gambar. Melaui monitor ini, radiografer dapat menentukan layak atau tidaknya gambar untuk diteruskan kepada work station radiolog.
Selain monitor, output device dapat berupa laser printer apabila ingin diperoleh data dalam bentuk fisik (radiograf). Media yang digunakan untuk mencetak gambar berupa film khusus (dry view) yang tidak memerlukan proses kimiawi untuk mengasilkan gambar.
Gambar yang dihasilkan dapat langsung dikirimkan dalam bentuk digital kepada radiolog di ruang baca melaui jaringan work station. Dengan cara ini, dimungkinkan pembacaan foto melaui teleradiology.

Pesawat Digital Radiography





Gambar Hasil Pencitraan dengan DR



2. Prinsip Kerja
Prinsip kerja Digital Radiography (DR) atau (DX) pada intinya menangkap sinar-X tanpa menggunakan film. Sebagai ganti film sinar X, digunakan sebuah penangkap gambar digital untuk merekam gambar sinar X dan mengubahnya menjadi file digital yang dapat ditampilkan atau dicetak untuk dibaca dan disimpan sebagai bagian rekam medis pasien.








Skema Prinsip Kerja DR


4. Kelebihan dan Kekurangan Digital Radiography
Kelebihan yang dimiliki digital radiography antara lain:
a. Cepat dan efisien karena tidak membutuhkan kamar gelap untuk pencetakan gambar.
b. Hasil lebih akurat.
c. Sistem sinar-X (pesawat) dapat tetap digunakan dengan dilakukan moifikasi.
d. Tidak membutuhkan ahli komputer karena perangkat lunak yang digunakan untuk mengatur image mudah digunakan.
e. Angka penolakan film dapat ditekan.
f. Dapat digunakan untuk radiografi mobile X-Ray unit dengan detektor digital (flat digital).

Kekurangan digital radiography antara lain :
a. Dibutuhkan dana yang besar untuk mengganti fasilitas radiografi konvensional menjadi digital.
b. Kesalahan faktor eksposi yang terlalu parah tidak dapat diperbaiki.
c. Walaupun diklaim dapat mengurangi dosis yang diterima pasien, digital radiografi justru lebih sering meningkatkan dosis pasien, karena
- Over eksposure tidak akan terdeteksi (dapat dikurangi dengan mudah dalam proses komputer). Sehingga radiografer cenderung menambah faktor eksposi.
- Pengulangan pemeriksaan (sebelum dicetak) tidak akan menambah jumlah film yang digunakan, sehingga menurunkan tingkat kehati-hatian radiografer.

Prinsip Terbentuknya Bayangan Laten

1.Pengertian
Bayangan/gambar/image dari radiograf yang belum diproses lebih lanjut setelah pemotretan, sehingga bayangan /gambar/ image tersebut tidak terlihat.

2.Processing the latent image


=Bayangan/gambar/image tidak terlihat karena hanya sedikit atom Ag yang terkumpul di daerah sensitivity speck.
=Proses kimia diperlukan agar bayangan laten menjadi bayangan/gambar yang terlihat Gambar ->manifes (manifest radiographic film)
=Proses kimia yang dimaksud dikenal sebagai istilah Processing
=Alatnya dikenal dengan nama: Film Processor
=Karena Otomatis è Automatic Processing Film (APF)

3.Bagian-bagian processing
a.Wetting (pembasahan)
Dibasahi dengan air
Direndam 15 detik
Tujuan: mengembangkan gelatin dalam emulsi
Untuk mesin APF, wetting sekaligus dilakukan di proses development

b.Development (pengembangan)

Development adalah proses kimia yang memperkuat gambar laten.
Hanya kristal yang mengandung bayangan laten (kristal yang terekspose)
Yang akan dikembangkan (develop) oleh developer.

Komponen utama developer



Overdevelop==> development fog

c. Stop Bath
=Penghentian proses development agar tidak terjadi development fog.
=Development fog terjadi karena proses kimia yang berlebihan sehingga, kristal AgBr yang tidak terekspose radiasi ikut terproses menjadi hitam.
=Mengakibatkan kualitas film radiograf menjadi jelek, disebut terlalu ”keras”/”matang”

d. Fixing
=Setelah film dikembangkan (develop), maka hasilnya perlu dimantapkan dengan fixing.
=Gambar difix-kan, dimantapkan menjadi gambar permanen.
=Fixer yang bagus membuat kualitas gambar yang sudah dikembangkan menjadi baik (archival quality)
Ada 5 komponen dalam fixer:
1) Pengaktif (Activator)
2) Clearing agent (agen penjernih)
3) Pengeras (Hardener)
4) Penjaga/pemelihara (preservative)
5) Pelarut (solvent)


e. Washing (pencucian)
 Bahan utama air
 Tujuan: untuk menghilangkan sisa emulsi & sisa-sisa kimia akibat proses developing & fixing
 Suhu air dijaga di bawah suhu developing, sekitar 28°C
 Pembersihan dijaga waktunya.
 Terlalu bersih tidak baik, karena masih membutuhkan bahan kimia di radiograf
 Kurang/tidak “bersih” juga tidak baik, karena sisa kimia yang terlalu banyak, akan mengakibatkan reaksi lebih lanjut.
f. Dying (Pengeringan)
=Proses terakhir adalah pengeringan
=Mengeringkan dari air
=Radiograf yang lembab, tidak baik, karena dapat merusak gambar film, bahkan mungkin berjamur
=Cara penyimpanan radiograf yg baik adalah ditempat yang kering, suhu kamar (sejuk), tidak lembab.
=Proses manual > 1 jam
=Proses automatis ~ 90 detik

4. Penampang film radiograf
Terdiri dari base (dasar film), dan Super coating emulsion adhesive (pelapis super, dari bahan mudah larut, yang melekat dengan kuat)

EMULSI



•Emulsion (emulsi) terdiri atas campuran gelatin dan kristal perak bromida (AgBr) atau perak Iodida (AgI)
•Gelatin: jernih, tembus cahaya, melindungi kristal AgBr / AgI dari kerusakan kristal (goresan, proses kimia)

5.Proses Pembentukan gambar Laten



Keterangan :
A.Energi sinar X diserap total oleh kristal Perak Bromida (AgBr), di dalam atom Br terjadi interaksi antara sinar x dengan elektron => efek fotolistrik.

B.Atom Perak (Ag) dan Atom Bromida (Br) akan berikatan secara ionik menbentuk molekul/kristal Perak Bromida (AgBr)
AgBr à Ag + + Br – AgI à Ag + + I –
Br – + Photon (X) à Br + e –
I –+ Photon (X) à I + e –
e – bermigrasi ke daerah sensitivity speck
Terjadilah kumpulan elektron-2

C.Elektron-elektron berkumpul di daerah sensitivity speck, menyebabkan ion perak positif bermigrasi ke sensitivity speck dan bergabung dengan elektron èHukum Coulomb
Ag + + e – è Ag (netral)
Karena ikatan ionik antara Ag dan Br / I sudah terpisah, maka atom Br dan atom I akan terlepas dari kristal AgBr / AgI, dan bermigrasi ke daerah emulsion.

D.Atom Ag yg bermigrasi ke daerah sensitivity speck dan telah bergabung dengan elektron.
Hal tersebut terjadi pada jutaan atom.
Sekumpulan Atom Ag disebut pusat bayangan laten (Latent image center)
E.DaN Atom Ag yang terekspose/terpapar radiasi akan berwarna hitam.